Akalasia

Redaksi DokteriaMinggu, 7 Juni 2026 | 06:32 WIB
Mengenal Akalasia, Gangguan Kerongkongan yang Langka
Mengenal Akalasia, Gangguan Kerongkongan yang Langka

Akalasia adalah gangguan pada kerongkongan (esofagus) yang membuat makanan dan minuman sulit masuk ke lambung karena otot katup di ujung bawah kerongkongan tidak dapat relaksasi dengan baik. Gejala utama meliputi sulit menelan, makanan kembali ke mulut, nyeri dada, dan penurunan berat badan.

Kondisi ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya karena kerusakan saraf yang terjadi umumnya tidak dapat dipulihkan. Namun, berbagai terapi dapat membantu mengurangi gejala dan memperbaiki kemampuan menelan sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat.

Ringkasan Penyakit

Aspek Keterangan
Nama penyakit Akalasia (Achalasia)
Organ yang terdampak Kerongkongan (esofagus)
Penyebab utama Gangguan saraf yang mengatur otot kerongkongan
Gejala utama Sulit menelan, makanan kembali ke mulut, nyeri dada
Diagnosis Manometri esofagus, pemeriksaan barium, endoskopi
Pengobatan Dilatasi balon, POEM, Heller myotomy, botulinum toxin
Pencegahan Belum diketahui cara pencegahan khusus
Prognosis Umumnya dapat dikendalikan dengan terapi yang tepat

Pengertian Akalasia

Akalasia adalah gangguan motilitas esofagus, yaitu gangguan pergerakan otot kerongkongan yang berfungsi mendorong makanan menuju lambung. Pada kondisi ini, saraf yang mengontrol otot kerongkongan mengalami kerusakan sehingga:

  • Gerakan mendorong makanan menjadi lemah atau hilang.
  • Katup antara kerongkongan dan lambung (lower esophageal sphincter/LES) tidak membuka dengan baik saat menelan.

Akibatnya, makanan dan cairan dapat tertahan di dalam kerongkongan sebelum akhirnya masuk ke lambung.

Penyebab Akalasia

Penyebab pasti akalasia belum diketahui secara pasti. Para peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan hilangnya sel-sel saraf pada kerongkongan yang mengatur proses menelan.

Beberapa teori yang masih diteliti meliputi:

  • Reaksi autoimun, yaitu sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri.
  • Infeksi virus tertentu.
  • Kelainan genetik yang sangat jarang.
  • Kondisi medis tertentu yang memengaruhi fungsi saraf.

Hingga saat ini belum ada satu penyebab tunggal yang terbukti menjelaskan seluruh kasus akalasia.

Faktor Risiko

Akalasia dapat terjadi pada siapa saja, tetapi beberapa faktor diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko, antara lain:

  • Usia dewasa, terutama sekitar 25–60 tahun.
  • Riwayat gangguan alergi tertentu.
  • Insufisiensi adrenal.
  • Sindrom Allgrove (kelainan genetik langka).

Perlu diketahui bahwa banyak penderita akalasia tidak memiliki faktor risiko yang jelas.

Gejala Akalasia

Gejala biasanya muncul secara bertahap dan memburuk seiring waktu.

Gejala yang sering ditemukan meliputi:

Sulit Menelan (Disfagia)

Ini merupakan gejala paling khas. Penderita dapat merasakan makanan atau minuman seperti tersangkut di dada atau tenggorokan.

Makanan atau Cairan Kembali ke Mulut

Makanan yang tertahan di kerongkongan dapat naik kembali ke mulut, terutama saat berbaring. Kondisi ini disebut regurgitasi.

Nyeri Dada

Sebagian penderita mengalami nyeri atau rasa tertekan di dada yang dapat menyerupai penyakit jantung atau refluks asam lambung.

Gejala Lain

  • Batuk terutama pada malam hari.
  • Heartburn atau rasa panas di dada.
  • Sendawa.
  • Penurunan berat badan.
  • Muntah.
  • Pneumonia akibat makanan masuk ke saluran napas (aspirasi).

Diagnosis Akalasia

Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit refluks asam lambung (GERD) atau gangguan pencernaan lainnya, diagnosis akalasia memerlukan pemeriksaan khusus.

Manometri Esofagus

Pemeriksaan ini mengukur tekanan dan koordinasi otot kerongkongan saat menelan. Manometri dianggap sebagai pemeriksaan paling penting untuk menegakkan diagnosis akalasia.

Foto Barium (Barium Swallow)

Pasien diminta menelan cairan barium sebelum dilakukan pencitraan. Pemeriksaan ini membantu melihat hambatan aliran makanan pada kerongkongan.

Endoskopi Saluran Cerna Atas

Dokter memasukkan selang berkamera melalui mulut untuk melihat kondisi kerongkongan dan menyingkirkan penyebab lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.

Pengobatan Akalasia

Tujuan pengobatan adalah membantu makanan dan minuman lebih mudah masuk ke lambung dengan mengurangi hambatan pada katup bawah kerongkongan.

Dilatasi Pneumatik

Dokter memasukkan balon khusus ke area katup bawah kerongkongan lalu mengembangkannya untuk melebarkan saluran tersebut. Pada sebagian pasien, prosedur mungkin perlu diulang di kemudian hari.

Injeksi Botulinum Toxin (Botox)

Botox dapat membantu melemaskan otot katup kerongkongan. Efeknya biasanya bersifat sementara dan sering digunakan pada pasien yang tidak cocok menjalani tindakan lain.

Heller Myotomy

Prosedur bedah yang dilakukan dengan memotong sebagian otot katup bawah kerongkongan agar makanan dapat lewat lebih mudah.

POEM (Peroral Endoscopic Myotomy)

Teknik endoskopi yang dilakukan melalui mulut untuk memotong otot yang terlalu tegang pada ujung bawah kerongkongan. POEM merupakan salah satu pilihan terapi yang banyak digunakan saat ini.

Obat-obatan

Obat pelemas otot tertentu kadang digunakan pada kondisi khusus, tetapi efektivitasnya umumnya terbatas dibandingkan prosedur lainnya.

Komplikasi Akalasia

Jika tidak ditangani, akalasia dapat menyebabkan:

  • Malnutrisi akibat kesulitan makan.
  • Penurunan berat badan yang signifikan.
  • Aspirasi makanan ke paru-paru.
  • Pneumonia aspirasi.
  • Pelebaran kerongkongan akibat penumpukan makanan dalam jangka panjang.

Pencegahan

Saat ini belum diketahui cara yang terbukti dapat mencegah akalasia karena penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami.

Namun, diagnosis dan penanganan dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi.

Prognosis

Akalasia merupakan kondisi kronis yang umumnya memerlukan pemantauan jangka panjang. Kerusakan saraf yang mendasari penyakit ini biasanya tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Meski demikian, sebagian besar pasien dapat memperoleh perbaikan gejala yang bermakna melalui terapi yang sesuai.

Respons terhadap pengobatan dapat berbeda pada setiap individu sehingga evaluasi berkala oleh dokter tetap diperlukan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter apabila mengalami:

  • Sulit menelan yang berlangsung terus-menerus.
  • Makanan atau minuman sering kembali ke mulut.
  • Nyeri dada yang tidak jelas penyebabnya.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Batuk kronis terutama saat malam hari.
  • Tersedak saat makan atau minum.
  • Gejala yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Cari pertolongan medis segera bila muncul sesak napas, tanda pneumonia, atau nyeri dada berat yang tidak dapat dibedakan dari kondisi darurat jantung.

Poin Penting yang Perlu Diingat

  • Akalasia adalah gangguan kerongkongan yang menyebabkan makanan sulit masuk ke lambung.
  • Gejala utama adalah sulit menelan dan makanan kembali ke mulut.
  • Penyebab pasti belum diketahui, tetapi diduga berkaitan dengan kerusakan saraf kerongkongan.
  • Diagnosis biasanya dilakukan dengan manometri esofagus, pemeriksaan barium, dan endoskopi.
  • Penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi gejalanya sering kali dapat dikendalikan dengan terapi yang tepat.
  • Penanganan dini dapat membantu mencegah komplikasi seperti malnutrisi dan pneumonia aspirasi.

FAQ

Apakah akalasia sama dengan asam lambung?

Tidak. Gejala keduanya dapat mirip, tetapi akalasia disebabkan oleh gangguan pergerakan kerongkongan dan kegagalan katup bawah kerongkongan untuk membuka dengan baik.

Apakah akalasia termasuk penyakit langka?

Ya. Akalasia tergolong gangguan yang relatif jarang ditemukan dibandingkan penyakit saluran cerna lainnya.

Apakah akalasia dapat sembuh total?

Belum ada terapi yang dapat memperbaiki kerusakan saraf yang mendasari akalasia. Namun, berbagai tindakan medis dapat membantu mengurangi gejala secara signifikan.

Apakah penderita akalasia harus menjalani operasi?

Tidak selalu. Pilihan terapi bergantung pada kondisi pasien, usia, tingkat keparahan gejala, dan hasil evaluasi dokter.

Apakah akalasia berbahaya?

Akalasia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti malnutrisi dan pneumonia aspirasi jika tidak ditangani dengan baik.


Referensi

  1. Mayo Clinic. Achalasia: Symptoms and Causes. Updated 2026.
  2. Mayo Clinic. Achalasia: Diagnosis and Treatment. Updated 2026.
  3. Merck Manual Professional Edition. Achalasia.
  4. Johns Hopkins Medicine. Achalasia.
  5. Spechler SJ. Achalasia: Pathogenesis, Clinical Manifestations, and Diagnosis. UpToDate.
  6. Spechler SJ. Overview of the Treatment of Achalasia. UpToDate.
  7. Tasnim S, et al. Achalasia: Surgery versus Per-Oral Endoscopic Myotomy. Thoracic Surgery Clinics. 2023.
  8. Ferri FF. Ferri’s Clinical Advisor. Elsevier. 2024.