Kulit tiba-tiba muncul bentol merah dan gatal luar biasa. Kamu panik, langsung googling, dan khawatir ini sesuatu yang serius. Tenang dulu.
Biduran sangat umum. Kondisi ini dialami sekitar 20% orang di seluruh dunia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Artinya, 1 dari 5 orang pernah mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup.
Kabar baiknya: biduran tidak menular dan sebagian besar kasus sembuh sendiri dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Tapi ada satu situasi yang harus kamu waspadai. Kalau muncul sesak napas atau bengkak di bibir dan tenggorokan bersamaan dengan biduran, itu darurat medis. Pergi ke IGD sekarang, jangan tunggu.
Sebenarnya, Apa Itu Biduran?
Biduran, atau dalam istilah medis disebut urtikaria, adalah bentol-bentol menonjol di kulit yang terasa gatal. Bentolnya bisa sebesar ujung pensil, atau selebar telapak tangan. Warnanya merah atau kemerahan, dengan tepi yang cukup jelas.
Ciri khas biduran yang membedakannya dari ruam biasa adalah ini: setiap bentol bisa hilang dan muncul kembali di tempat lain, biasanya dalam hitungan jam. Kalau kamu tekan bentolnya, warnanya memucat sebentar lalu kembali merah. Ini bukan tanda bahaya, justru ini tanda khas biduran.
Yang terjadi di dalam kulit begini: sistem imun tubuh melepaskan zat kimia bernama histamin ke jaringan kulit. Histamin membuat pembuluh darah kecil di bawah kulit bocor sedikit. Akibatnya, cairan mengisi jaringan di sekitarnya dan kulit jadi bengkak, merah, dan gatal.
Ini reaksi alergik di kulit, bukan infeksi.
Kenapa Tiba-Tiba Bisa Muncul Biduran?
Banyak hal bisa memicu biduran. Dan yang membuat frustrasi: sebagian besar waktu, dokter pun tidak bisa menemukan penyebab pastinya. Ini bukan karena dokternya tidak kompeten. Memang begitu sifat biduran.
Beberapa pemicu yang paling sering ditemukan antara lain:
Makanan, seperti udang, kepiting, kacang tanah, kacang pohon (almond, mete), susu, dan telur. Biduran karena alergi makanan biasanya muncul dalam menit hingga 2 jam setelah makan.
Obat-obatan, seperti antibiotik (terutama golongan penisilin), obat penghilang nyeri seperti ibuprofen dan aspirin dosis tinggi, serta obat darah tinggi tertentu. Obat antinyeri seperti ibuprofen dan aspirin dosis tinggi bisa memperparah biduran pada hingga 30% penderita. Jadi kalau sedang biduran, hindari obat-obatan itu dulu.
Infeksi, terutama infeksi virus seperti flu. Ini salah satu penyebab tersering biduran pada anak-anak.
Faktor fisik, seperti kulit tergaruk atau tertekan, paparan dingin atau panas tiba-tiba, getaran, atau olahraga. Ada orang yang kulitnya langsung bentol saat digores, ini kondisi yang disebut dermatografisme (kulit tulis).
Stres, meski bukan penyebab langsung, bisa memperparah gejala yang sudah ada.
Perlu diingat: menemukan pemicu tidak selalu bisa dilakukan. Kalau kamu tidak tahu kena apa, itu sangat normal.
Biduran Akut vs Biduran Kronis: Apa Bedanya?
Ada dua jenis biduran, yaitu akut dan kronis. Bedanya ada di durasi.
Biduran akut berlangsung kurang dari 6 minggu. Inilah yang paling sering terjadi. Biasanya dipicu oleh alergi makanan, obat, atau infeksi. Sebagian besar sembuh sendiri tanpa investigasi panjang.
Biduran kronis berlangsung lebih dari 6 minggu, kadang berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Rata-rata, biduran kronis tipe autoimun (dipicu sistem imun yang menyerang tubuh sendiri) membutuhkan waktu sekitar 3 tahun untuk mereda. Bahkan 20% kasus bisa bertahan lebih dari 10 tahun. Ini bisa terasa sangat melelahkan, tapi biduran kronis tidak mengancam jiwa secara langsung.
Biduran kronis bukan berarti kamu sakit parah. Tapi kamu perlu pendampingan dokter untuk menemukan pola pemicunya dan mendapatkan obat yang tepat.
Ini Tanda Bahaya: Segera ke IGD
Berhenti membaca sebentar. Cek dirimu sekarang.
Pergi ke IGD atau hubungi 119 segera kalau kamu mengalami satu atau lebih dari ini bersamaan dengan biduran:
- Sesak napas atau napas berbunyi ngik-ngik
- Bengkak di bibir, lidah, atau tenggorokan
- Suara serak tiba-tiba atau susah menelan
- Pusing berat, hampir pingsan, atau jantung berdebar cepat
- Mual atau muntah hebat setelah makan sesuatu yang dicurigai
Semua tanda di atas bisa jadi pertanda anafilaksis (reaksi alergi berat yang mengancam jiwa). Anafilaksis adalah reaksi yang memerlukan diagnosis dan penanganan segera. Obat pertama yang harus diberikan adalah adrenalin (epinefrin), bukan antihistamin.
Jangan tunggu bidurannya membaik dulu. Segera pergi.
Kalau hanya biduran saja tanpa tanda-tanda di atas, kamu tidak perlu ke IGD. Bisa ke klinik atau puskesmas keesokan harinya.
Apa yang Sebaiknya Kamu Lakukan Sekarang?
Kalau bidurannya baru muncul dan tidak ada tanda bahaya di atas, ini yang bisa kamu lakukan sambil menunggu atau sebelum ke dokter:
Kompres dingin. Tempelkan kain bersih yang sudah dibasahi air dingin ke area yang gatal. Ini membantu mengurangi rasa gatal sementara waktu.
Jangan garuk. Garukan membuat histamin makin banyak dilepas. Ini justru bikin bentolnya meluas.
Pakai baju longgar dan adem. Panas dan gesekan membuat biduran makin parah.
Hindari ibuprofen dan aspirin dosis tinggi selama biduran belum mereda.
Coba ingat apa yang kamu makan atau sentuh 2 jam terakhir. Informasi ini sangat membantu dokter.
Kalau kamu punya antihistamin (obat alergi) generasi kedua seperti cetirizine atau loratadine di rumah, kamu bisa meminumnya. Ini aman untuk dewasa dan membantu meredakan gejala.
Obat Apa yang Diberikan Dokter untuk Biduran?
Tujuan pengobatan biduran ada dua: meredakan gejala sekarang, dan mencegah biduran berulang.
Antihistamin generasi kedua adalah pengobatan utama. Ini termasuk cetirizine, loratadine, fexofenadine, dan bilastine. Guideline internasional merekomendasikan antihistamin generasi kedua sebagai pengobatan lini pertama karena profil keamanan dan tolerabilitasnya yang baik. Obat ini tidak membuat ngantuk berat seperti antihistamin lama.
Kamu mungkin pernah minum CTM (klorfeniramin maleat) atau difenhidramin, yang sering dijual bebas. Ini antihistamin generasi pertama. Secara resmi, panduan terbaru tidak merekomendasikan antihistamin generasi pertama ini sebagai pilihan utama karena bisa mengganggu kualitas tidur dan performa belajar atau bekerja. Dokter yang baik akan memilihkan antihistamin generasi kedua untukmu.
Kortikosteroid (obat anti radang kuat seperti prednison) kadang diberikan jangka pendek untuk biduran yang sangat parah. Ini bukan untuk penggunaan jangka panjang.
Untuk biduran kronis yang tidak mempan antihistamin, ada obat injeksi bernama omalizumab. Omalizumab terbukti efektif untuk biduran kronis spontan yang tidak merespons antihistamin, termasuk pada pasien dewasa dan remaja usia 12 tahun ke atas. Ini hanya diberikan oleh dokter spesialis alergi atau kulit.
Kenapa kamu dikasih antihistamin, bukan langsung steroid? Karena steroid punya efek samping yang signifikan kalau dipakai lama. Antihistamin lebih aman untuk dipakai sehari-hari.
Kapan Biduran Ini Akan Hilang?
Biduran akut biasanya membaik dalam beberapa hari hingga 6 minggu. Banyak yang sembuh dalam hitungan hari saja.
Kalau sudah lebih dari 6 minggu dan bidurannya masih sering muncul, itu masuk kategori biduran kronis. Kamu perlu periksa ke dokter kulit atau dokter alergi untuk penanganan yang lebih terencana.
Satu hal yang perlu kamu terima: belum tentu penyebabnya bisa ditemukan. Kadang biduran bisa menjadi pertanda kondisi medis yang sedang berjalan, seperti penyakit autoimun. Dokter akan menentukan apakah perlu pemeriksaan darah atau tidak berdasarkan pola gejalamu.
Biduran bukan berarti tubuhmu rusak. Sistem imunmu hanya sedang bereaksi berlebihan.
Apakah Biduran Bisa Kambuh Lagi?
Ya, bisa. Terutama kalau pemicunya tidak diketahui atau tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Yang bisa kamu lakukan adalah membuat catatan harian gejala: kapan biduran muncul, apa yang kamu makan sebelumnya, aktivitas apa yang dilakukan, seberapa stres kamu hari itu. Catatan ini sangat membantu dokter menemukan pola.
Beberapa orang perlu minum antihistamin setiap hari untuk mencegah biduran kambuh. Ini aman untuk jangka panjang, asal obatnya generasi kedua.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Biduran saya tidak gatal, cuma merah dan bentol. Apa itu tetap biduran?
Biduran memang biasanya gatal, tapi bisa bervariasi. Kalau bentolnya hilang dalam 24 jam dan muncul di tempat lain, kemungkinan besar tetap biduran. Tunjukkan ke dokter untuk konfirmasi.
2. Saya makan udang tadi malam, sekarang biduran. Berarti saya alergi udang selamanya?
Tidak selalu. Reaksi satu kali tidak otomatis berarti alergi permanen. Tapi kamu perlu dievaluasi oleh dokter alergi untuk memastikan apakah benar alergi udang atau ada penyebab lain.
3. Boleh tidak minum obat alergi yang ada di rumah tanpa ke dokter dulu?
Untuk biduran ringan tanpa tanda bahaya, antihistamin generasi kedua yang dijual bebas seperti cetirizine atau loratadine aman untuk diminum. Tapi kalau dalam 48 jam tidak membaik, sebaiknya ke dokter.
4. Biduran saya sembuh, lalu kambuh lagi seminggu kemudian. Ini normal?
Bisa terjadi, terutama kalau pemicunya belum diketahui. Kalau ini terjadi lebih dari 6 minggu berturut-turut, periksakan ke dokter agar mendapat penanganan biduran kronis.
5. Anak saya yang 3 tahun tiba-tiba biduran. Apakah berbahaya?
Biduran pada anak sering dipicu oleh infeksi virus atau alergi makanan. Selama tidak ada sesak napas atau bengkak di wajah/tenggorokan, tidak darurat. Tapi tetap bawa ke dokter anak untuk diperiksa dan mendapat obat yang sesuai usia.
6. Apakah biduran bisa disebabkan oleh stres?
Stres bukan penyebab langsung biduran, tapi bisa memperparah gejala yang sudah ada. Kalau kamu sering biduran saat stres, itu mungkin bukan kebetulan.
7. Dokter bilang ini biduran autoimun. Apa artinya buat saya?
Artinya sistem imun tubuhmu salah menarget sel-sel kulitmu sendiri. Ini bukan berarti kamu menderita penyakit autoimun berat. Biduran autoimun bisa dikelola dengan obat dan biasanya membaik dalam beberapa tahun.
8. Apakah biduran kronis bisa sembuh total?
Banyak yang akhirnya membaik dengan sendirinya, tapi butuh waktu. Dengan pengobatan yang tepat, gejala bisa dikendalikan sehingga kualitas hidupmu tidak terganggu.
REFERENSI
- Zuberbier T, et al. The international EAACI/GA²LEN/EuroGuiDerm/APAAACI guideline for the definition, classification, diagnosis, and management of urticaria. Allergy. 2022;77(3):734-766.
- Updated International Urticaria Guideline 2024. Konsensus global yang melibatkan lebih dari 200 ahli dari 59 negara, difinalisasi Desember 2024. Dipublikasikan oleh HCPLive, Juni 2025.
- Kolkhir P, Giménez-Arnau AM, Kulthanan K, et al. Urticaria. Nat Rev Dis Primers. 2022;8(1):61.
- Cleveland Clinic. Hives (Urticaria). Diperbarui April 2026. Diakses Juli 2026. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8630-hives
- American College of Allergy, Asthma & Immunology (ACAAI). Hives (Urticaria). https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/skin-allergy/hives/
- Bernstein JA, et al. Practical Management of New-Onset Urticaria and Angioedema Presenting in Primary Care, Urgent Care, and the Emergency Department. The Permanente Journal. 2022. doi:10.7812/TPP/21.058
- Giavina-Bianchi P, et al. Acute Urticaria and Anaphylaxis: Differences and Similarities in Clinical Management. Frontiers in Allergy. 2022. PMC9361476.
- Fricke J, et al. Prevalence of chronic urticaria in children and adults across the globe: Systematic review with meta-analysis. Allergy. 2020.





