Mengenal Akar Tuba, Tanaman Obat dengan Sisi Beracun

Redaksi DokteriaJumat, 10 Juli 2026 | 11:04 WIB
Mengenal Akar Tuba, Tanaman Obat dengan Sisi Beracun
Mengenal Akar Tuba, Tanaman Obat dengan Sisi Beracun

Akar tuba adalah bagian dari tanaman merambat Derris elliptica yang secara turun-temurun dipakai sebagai obat luar untuk kudis, gatal, bisul, dan luka kulit, dengan cara diolah jadi rebusan atau ditumbuk halus jadi pasta yang ditempelkan langsung ke kulit. Khasiat ini datang dari kandungan aktif di dalam akarnya, terutama rotenon, senyawa yang juga membuat tanaman ini punya sifat toksik sehingga pemakaiannya perlu dosis dan cara yang tepat, bukan asal pakai.

Kalau baru pertama kali dengar nama ini, wajar kalau penasaran seberapa jauh khasiatnya bisa dipercaya, dan seberapa aman sebenarnya tanaman ini dipakai di kulit. Dua hal itu yang akan dibahas pelan-pelan di sini, mulai dari asal-usulnya, cara ramuannya, sampai batas amannya.

Mengenal Akar Tuba dan Asal-Usulnya

Tuba adalah tanaman liana atau tumbuhan merambat berkayu yang bisa tumbuh sampai 7-10 meter, biasa dijumpai di pinggir hutan dan sungai. Tanaman ini berasal dari Asia Tropis dan bisa ditemukan, dibudidayakan, dan dinaturalisasi di Afrika, Asia Tropis dan Sedang, Amerika Tengah, Hindia Barat, dan kawasan Pasifik. Di Indonesia sendiri sebarannya luas, mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Akar tuba (Derris elliptica) segar, herbal tradisional yang dipakai untuk mengobati kudis, gatal, dan bisul.
Akar tuba (Derris elliptica) segar, herbal tradisional yang dipakai untuk mengobati kudis, gatal, dan bisul.

Satu hal yang menarik, orang Indonesia sebenarnya sudah kenal tanaman ini lama sekali, cuma namanya beda-beda tiap daerah. Di Jawa dikenal dengan nama besto atau oyod tungkul, di Sunda disebut tuwa lalear atau tuba leteng, sementara di Kalimantan Barat dikenal sebagai akar jenu.

Nama-nama lokal lain termasuk jenu, jelun, tobha, jheno, dan mombul, tergantung wilayahnya. Uniknya lagi, nama ini juga dipakai di banyak negara Asia Tenggara, mulai dari Malaysia, Thailand, Kamboja, sampai Filipina, dengan sebutan yang mirip-mirip.

Dulu, tanaman ini sempat jadi komoditas yang cukup penting secara ekonomi. Pada tahun 1940, luas tanaman tuba di Indonesia ditaksir sekitar 7.000 hektare dengan produksi akar kering 1-2,5 ton per hektare, dan volume ekspornya mencapai 570 ton baik dari perkebunan maupun tanaman rakyat.

Sayangnya, kondisi sekarang jauh berbeda. Keberadaan akar tuba kini sudah semakin langka, baik di pekarangan rumah maupun di area perkebunan. Ini bukan cuma soal nostalgia, tapi juga menandakan kearifan lokal yang perlahan hilang karena masyarakat beralih ke pestisida kimia yang lebih praktis.

Kandungan Kimia yang Membuat Akar Tuba Istimewa

Rahasia di balik semua khasiat dan bahaya akar tuba terletak pada satu senyawa utama: rotenon. Rotenon (C23H22O6) adalah senyawa aktif yang tergolong dalam kelompok flavonoid, dan berfungsi sebagai racun untuk membunuh hama tanaman dan ikan liar. Tapi rotenon sebenarnya cuma satu dari sekian banyak senyawa yang terkandung di akar ini.

Data indeks tanaman dari Socfindo Conservation, kebun konservasi yang mendokumentasikan tanaman ini secara khusus, mencatat kandungan kimianya jauh lebih beragam: rotenone, derrid, anhydroderrid, derrin, tubotoxin, tuba, tephrosin, toxicarol, rotenoid, deguelin, seramid, sampai asam poli-hidroksil oktadekenoat. Bagian tanaman yang dimanfaatkan pun bukan cuma akar, daun dan batangnya juga dipakai, meski akar tetap jadi bagian yang paling sering diolah karena kandungan aktifnya paling pekat.

Yang perlu diketahui, kadar rotenon dalam akar tuba itu tidak seragam. Kandungan rotenon tergantung pada besar-kecilnya diameter akar, semakin kecil akarnya justru semakin tinggi kadar rotenonnya, dengan kisaran total 0,3 sampai 12 persen. Ini artinya, akar tuba yang tipis dan muda sebetulnya lebih “kuat” dibanding akar yang besar dan tua, kebalikan dari intuisi kebanyakan orang yang mengira makin besar makin ampuh.

Soal seberapa toksik rotenon ini dibanding racun lain, ada perbandingan yang cukup mengejutkan. Rotenon tercatat 15 kali lebih toksik dibandingkan nikotin dan 25 kali lebih toksik dibanding potassium ferrosianida. Tapi anehnya, untuk manusia dan hewan berdarah panas, efeknya jauh lebih ringan dibanding untuk ikan dan serangga.

Beberapa kajian ilmiah menyebutkan rotenon relatif aman terhadap kesehatan manusia atau hewan berdarah panas. Selektivitas semacam ini yang bikin rotenon dulu dianggap “biopestisida ramah lingkungan”, karena dampaknya ke manusia dianggap minimal dibanding pestisida sintetis.

Kenapa Herbal Beracun Ini Bisa Dipakai sebagai Obat Kulit?

Ini pertanyaan yang sering bikin orang penasaran, dan jawabannya ada di cara kerja rotenon di level sel serta jalur masuknya ke tubuh. Rotenon bekerja dengan mengganggu rantai transpor elektron di mitokondria, bagian sel yang bertugas menghasilkan energi. Efek ini sangat kuat kalau senyawanya langsung masuk ke aliran darah dalam konsentrasi tinggi, itulah sebabnya tanaman ini juga dikenal punya sisi toksik yang kuat pada organisme air seperti ikan.

Pada manusia, jalur masuknya berbeda kalau cuma lewat kontak kulit. Penyerapan rotenon lewat kulit jauh lebih lambat dan sebagian besar dinetralkan oleh sistem pencernaan serta hati sebelum sempat merusak sel dalam skala besar, apalagi kalau pemakaiannya cuma dioleskan atau ditempel di permukaan kulit yang terluka.

Itulah kenapa dulu orang berani memakainya sebagai obat luar untuk kulit, karena paparannya terbatas dibanding kalau senyawa itu langsung masuk ke pembuluh darah. Tapi “relatif aman” bukan berarti tanpa risiko sama sekali, apalagi kalau cara pakainya keliru. Ini yang akan dibahas di bagian bahaya nanti.

Manfaat Tradisional Akar Tuba sebagai Obat

Sebelum orang mengenalnya sebagai pestisida modern, akar tuba lebih dulu punya tempat di pengobatan tradisional Asia. Tanaman ini digunakan dalam pengobatan tradisional Asia untuk mengatasi kusta dan gatal-gatal, berfungsi sebagai antiseptik, dan juga dipakai untuk mengatasi abses.

Data dari Socfindo Conservation menambahkan pemanfaatan yang lebih spesifik lagi: akar tuba juga dipakai sebagai abortifacient (pemicu keguguran), dan di Thailand akarnya digunakan sebagai emmenagogue atau pelancar haid, sementara batangnya dipakai sebagai tonik darah.

Catatan khasiat yang lebih ringkas menyebut tanaman ini bisa dipakai untuk mengobati gatal, kusta, bisul, luka, penyakit kulit, kudis, sebagai emmenagogue, tonik darah, dan disebut-sebut punya sifat anti kanker, meski klaim anti kanker ini masih sebatas catatan etnobotani turun-temurun, bukan hasil uji klinis.

Poin soal abortifacient ini penting digarisbawahi: ini bukan efek samping ringan, melainkan penggunaan tradisional yang sengaja memanfaatkan sifat toksik tanaman untuk menggugurkan kandungan, jadi jelas bukan sesuatu yang boleh dicoba sembarangan tanpa pengawasan medis, bahkan berisiko tinggi meski di bawah pengawasan sekalipun.

Untuk urusan kulit, penggunaannya cukup konsisten disebut di berbagai sumber, dan bahkan ada resep ramuan tradisional yang tercatat cukup rinci. Untuk luka gatal, caranya: akar tuba direbus bersama minyak kelapa secukupnya sampai mendidih, ditunggu sampai dingin, lalu hasil rebusannya dioleskan pada luka gatal.

Sementara untuk bisul dan kusta, prosesnya sedikit berbeda: akar dicuci bersih dengan air mengalir, dihaluskan sampai menjadi pasta, lalu pasta akar tersebut ditempelkan langsung pada bisul atau area kusta.

Sebelum diolah jadi simplisia untuk disimpan, akar dicuci bersih dengan air mengalir lalu dikeringkan di bawah sinar matahari langsung sampai benar-benar kering, baru kemudian disimpan dalam wadah bersih dan tertutup. Akar tuba diketahui juga bermanfaat sebagai bahan anti nyamuk yang ramah lingkungan.

Belakangan, muncul juga penelitian yang mengaitkan kandungan dalam pohon tuba secara lebih luas (bukan cuma akarnya) dengan manfaat kesehatan lain. Ekstrak akar pohon tuba diketahui mengandung quercetin, senyawa yang didukung berbagai penelitian karena mampu memberikan efek relaksasi pada pembuluh darah sehingga berpotensi menurunkan tekanan darah secara signifikan.

Selain quercetin, pohon tuba juga mengandung nutrisi lain seperti flavonoid, isoflavon, rotenone, dan ceramide, yang secara kombinasi disebut-sebut punya potensi membantu mengatasi diabetes lewat ekstrak daunnya. Kemampuan flavonoid melawan radikal bebas ini juga jadi alasan sebagian orang meyakini ekstrak tumbuhan ini bisa membantu menurunkan risiko kanker, khususnya kanker payudara dan prostat.

Poin pentingnya, semua klaim di atas soal diabetes, tekanan darah, dan kanker itu masih berstatus potensi awal berdasarkan kandungan senyawanya, bukan hasil uji klinis pada manusia yang sudah terbukti kuat. Beberapa manfaat dari tumbuhan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, sehingga tidak disarankan menggunakan pohon tuba sebagai pengganti pengobatan medis dari dokter.

Riset Terbaru soal Rotenon dan Kaitannya dengan Parkinson

Salah satu perkembangan penelitian yang penting untuk diketahui siapa pun yang tertarik pada khasiat herbal ini adalah soal kaitannya dengan penyakit saraf. Sejak tahun 2000, penyuntikan rotenon pada tikus dilaporkan dapat memicu munculnya gejala yang mirip penyakit Parkinson.

Penelitian lanjutan bahkan menunjukkan mekanismenya sampai level sel. Rotenon telah dilaporkan bersifat toksik pada sel normal, menginduksi kematian sel saraf yang mirip Parkinson lewat penumpukan protein alfa-sinuklein. Riset pada manusia pun mendukung kekhawatiran ini.

Pada 2011, studi dari US National Institutes of Health menunjukkan adanya kaitan antara penggunaan rotenon dan penyakit Parkinson pada pekerja pertanian, terutama akibat paparan lewat pernapasan tanpa alat pelindung.

Jadi meski ada artikel populer yang menyebut rotenon “berpotensi jadi obat Parkinson,” data riset yang lebih solid justru menunjukkan arah sebaliknya: paparan rotenon dalam jangka panjang dan dalam dosis tinggi justru dikaitkan dengan risiko munculnya Parkinson, bukan menyembuhkannya.

Ini penting diluruskan supaya tidak ada yang salah paham dan mencoba memakai akar tuba untuk terapi Parkinson tanpa pengawasan medis. Temuan ini juga jadi alasan kuat kenapa pemakaian akar tuba sebagai herbal sebaiknya dibatasi pada pemakaian luar dalam jumlah kecil dan jangka pendek, bukan paparan rutin atau dalam jumlah besar.

Batasan dan Risiko yang Wajib Diketahui

Di sinilah bagian yang sering dilupakan orang saat membahas “tanaman obat”: setiap yang punya khasiat biasanya juga punya batas aman. Akar tuba bukan pengecualian.

Pertama, soal sifat racunnya yang sebenarnya. Kandungan rotenon yang beracun menjadikan akar tuba efektif untuk melumpuhkan ikan dan mengendalikan hama serangga, sehingga penggunaannya untuk tujuan lain harus tetap dilakukan dengan hati-hati karena rotenon bersifat toksik.

Artinya, klaim “aman untuk manusia” itu bersifat relatif dan bergantung pada dosis, cara pakai, serta jalur paparannya, bukan jaminan mutlak tanpa risiko sama sekali.

Kedua, soal klaim manfaat medis yang masih minim bukti kuat. Penelitian soal potensi rotenon sebagai obat untuk penyakit Parkinson masih dalam tahap awal dan belum ada bukti yang kuat mengenai efektivitas serta keamanannya untuk tujuan tersebut.

Bahkan seperti dibahas di bagian sebelumnya, arah bukti yang lebih banyak justru mengaitkan paparan rotenon dengan risiko Parkinson, bukan sebaliknya. Jadi kalau ada yang menawarkan akar tuba sebagai “obat Parkinson,” itu klaim yang perlu diragukan dan dicek ulang ke sumber medis yang kredibel.

Ketiga, soal data toksisitas yang sebenarnya masih terbatas. Riset ilmiah yang sudah dipublikasikan pun mengakui hal ini secara terbuka. Meski rotenon sangat efektif membunuh ikan, penelitian tentang toksisitasnya secara menyeluruh masih sangat terbatas.

Untuk konteks konsumsi jangka panjang atau penggunaan medis pada manusia, data terkini belum tersedia secara publik dalam jumlah yang memadai untuk memastikan keamanannya. Ini bukan berarti akar tuba pasti berbahaya, tapi lebih ke arah: klaim keamanannya belum bisa dijamin sepenuhnya lewat riset ilmiah yang solid.

Karena itu, kalau memang tertarik memanfaatkan akar tuba, baik untuk kulit maupun keperluan lain, ada baiknya diperlakukan sebagai obat luar tradisional dengan kehati-hatian tinggi, bukan sebagai suplemen atau obat yang dikonsumsi rutin.

Hindari kontak berlebihan, jangan sampai tertelan dalam jumlah banyak, dan kalau ada gejala tidak biasa setelah pemakaian seperti iritasi, pusing, atau mual, segera hentikan dan konsultasikan ke tenaga medis.

Kenapa Herbal Ini Makin Sulit Ditemukan?

Sayangnya, di tengah semua khasiat dan kekayaan pengetahuan tradisional yang menyertainya, keberadaan akar tuba di alam justru makin terancam. Seperti disebut di bagian awal, populasi tanaman ini terus menyusut karena masyarakat mulai meninggalkan budidayanya dan beralih ke bahan-bahan sintetis yang dianggap lebih praktis, baik untuk kebutuhan obat maupun keperluan lain di ladang dan kebun.

Padahal, mendokumentasikan dan melestarikan tanaman semacam ini penting, bukan cuma soal keanekaragaman hayati, tapi juga soal menjaga pengetahuan pengobatan tradisional supaya tidak hilang begitu saja.

Kebun-kebun konservasi yang mendokumentasikan tanaman obat, termasuk mencatat ramuan dan cara pengolahannya secara rinci, jadi salah satu upaya penting supaya generasi berikutnya masih bisa mengenal dan memanfaatkan kearifan lokal ini, tentu dengan pemahaman yang lebih baik soal batas aman pemakaiannya dibanding generasi sebelumnya.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah akar tuba aman dipakai sebagai obat kulit di rumah?

Secara tradisional memang dipakai untuk kudis dan gatal, tapi karena kandungan rotenonnya bersifat racun dan data toksisitas ilmiahnya masih terbatas, sebaiknya tidak dicoba sembarangan tanpa panduan dari orang yang paham dosis dan cara pengolahan yang tepat.

Apakah akar tuba bisa dikonsumsi sebagai jamu minum?

Sejauh ini pemanfaatan tradisional akar tuba yang tercatat lebih banyak untuk pemakaian luar (topikal), bukan diminum. Mengingat sifat toksik rotenon, mengonsumsinya secara oral berisiko tinggi dan tidak disarankan.

Kenapa akar tuba makin sulit ditemukan sekarang?

Selain karena masyarakat beralih ke pestisida kimia yang lebih praktis, budidayanya juga makin jarang dilakukan sehingga populasi tanaman ini di alam maupun pekarangan rumah terus menyusut dari tahun ke tahun.