Akar Gamat (Pterisanthes Cissioides)

Redaksi DokteriaSabtu, 4 Juli 2026 | 15:43 WIB
Akar Gamat (Pterisanthes Cissioides)
Akar Gamat (Pterisanthes Cissioides)

Akar gamat, atau Pterisanthes cissioides, adalah liana Vitaceae bercirikan perbungaan menyerupai daun yang aneh dan mencolok, dengan getah pada batang serta rantingnya yang secara tradisional dioleskan masyarakat Dayak ke luka dan bagian tubuh yang bengkak, terutama di kaki.

Kalau kamu sedang coba mengenali tanaman ini langsung di lapangan, entah karena penasaran setelah dengar cerita orang tua atau memang sedang jalan-jalan di hutan Kalimantan, ciri-ciri fisiknya ini yang paling gampang dijadikan pegangan. Beberapa bagiannya cukup unik dan jarang tertukar dengan tanaman liana lain, jadi begitu kamu tahu detailnya, seharusnya tidak akan bingung lagi.

Bentuk Tubuhnya: Liana yang Ramping dengan Sulur Pemanjat

Akar gamat tumbuh sebagai tanaman merambat tahunan, dengan batang yang ramping, berbentuk silinder, berlurik, dan tidak berbulu (gundul). Untuk memanjat, ia mengandalkan sulur, struktur khusus yang melilit media rambatnya seperti pohon atau semak di sekitarnya. Kalau kamu bayangkan bentuknya, ini mirip cara kerja tanaman anggur pada umumnya, wajar karena memang masih satu famili.

Daun: Perhatikan Tepinya yang Bergigi Halus

Daunnya tersusun berseling dan majemuk, dengan tiga sampai lima helai anak daun tipis berbentuk telur panjang hingga lonjong. Satu detail yang cukup khas adalah dasar setiap helai daunnya asimetris, artinya kedua sisi pangkal daun tidak simetris satu sama lain, sesuatu yang tidak selalu ada pada tanaman liana lain.

Tepi daunnya bergigi halus, dengan panjang gigi sekitar 0,5 sampai 1 milimeter di ujung setiap vena sekunder, kalau kamu perhatikan dari dekat. Ujung daunnya runcing, kadang berubah mendadak jadi lebih langsing dan meruncing tajam. Permukaan atasnya gundul tanpa bulu, dengan lima sampai enam vena utama yang tumbuh dari pangkal daun di tiap sisi, ditambah banyak vena sekunder yang bercabang darinya. Kalau kamu terbiasa mengenali tanaman lewat pola tulang daun, detail vena ini jadi salah satu penanda paling reliable untuk akar gamat.

Bunga: Bagian Paling Aneh dan Paling Mudah Dikenali

Ini bagian yang bikin genus Pterisanthes terkenal di kalangan ahli botani, dan kemungkinan besar juga bagian paling gampang kamu ingat kalau pernah lihat langsung. Perbungaannya menyerupai daun, menggantung dari tangkai yang panjang, dengan bentuk yang oleh sejumlah ahli botani sendiri digambarkan sebagai “sangat aneh”. Bunganya kecil, berwarna putih, dan ditempatkan langsung di permukaan struktur menyerupai daun tersebut, bukan menggantung bebas seperti bunga pada umumnya.

Mahkota bunganya berbentuk bulat telur-segitiga, dan sebagian besar bunga tidak bertangkai, langsung menempel di permukaan lamela. Tangkai pucuk bunganya berwarna hijau kecokelatan. Di sepanjang tepi struktur seperti daun ini, bunga jantannya justru ditempatkan pada tangkai yang lebih panjang, jadi ada perbedaan posisi antara bunga jantan dan bunga lainnya. Ditambah lagi, ada sulur bercabang yang muncul dari tangkai perbungaan itu sendiri, jadi fungsi memanjat dan fungsi berbunga jadi menyatu di satu struktur yang sama.

Buah dan Biji: Dari Hijau ke Merah Muda Keunguan

Buahnya muncul di permukaan merah cerah dari struktur seperti daun tadi, berbentuk bulat telur, dan masing-masing buah biasanya berisi satu sampai dua biji. Warnanya berubah seiring kematangan: buah muda berwarna hijau, lalu berubah jadi merah muda keunguan saat sudah matang. Bijinya sendiri berbentuk bulat telur dengan permukaan berkerut.

Untuk perbanyakannya, akar gamat berkembang biak secara generatif lewat biji, bukan lewat stek atau cangkok seperti sebagian tanaman obat lain yang lebih umum dibudidayakan.

Bagian yang Dipakai dan Cara Pemakaiannya

Bagian yang dimanfaatkan dari akar gamat adalah akar dan rantingnya, khususnya getah yang diambil dari kulit kayunya. Cara pakainya cukup sederhana dan sudah diwariskan turun-temurun: ambil batang atau ranting akar gamat, keluarkan getah dari kulit kayunya, lalu oleskan langsung ke bagian yang terluka.

Khasiat yang dipercaya masyarakat ada dua: membantu mengatasi bengkak (terutama di kaki) dan membantu mengobati luka. Perhatikan kata “membantu” dan “dipercaya” di sini, karena memang begitu status pengetahuannya sampai sekarang, sebatas praktik turun-temurun tanpa dokumentasi simplisia atau standar dosis yang baku. Bahkan simplisia atau bentuk sediaan kering yang biasanya jadi standar dalam dunia jamu pun, untuk akar gamat ini belum didokumentasikan dengan jelas.

Yang Masih Jadi Lubang Pengetahuan: Kandungan Kimianya

Ini bagian yang penting kamu tahu supaya ekspektasinya pas. Sampai saat ini, informasi soal kandungan kimia apa saja yang ada di dalam getah akar gamat belum ditemukan dan masih butuh penelusuran lebih lanjut. Artinya, semua klaim khasiat yang beredar murni berdiri di atas pengalaman empiris masyarakat Dayak, tanpa dukungan analisis senyawa aktif seperti yang biasanya jadi dasar klaim pada tanaman obat yang sudah diteliti lebih jauh.

Bukan berarti getahnya otomatis tidak bekerja, cuma memang belum ada cara memastikan senyawa apa yang berperan, seberapa efektif dibanding perawatan luka standar, atau risiko efek sampingnya kalau dipakai berulang. Kalau kamu menemukan artikel lain yang tiba-tiba menyebut kandungan kimia spesifik pada akar gamat lengkap dengan persentase atau nama senyawa, ada baiknya dicurigai, karena berdasarkan penelusuran sampai sekarang, data itu belum tersedia secara publik.

Nama Lokal yang Perlu Kamu Tahu Kalau Cari di Daerah Lain

Kalau kamu bertanya ke penduduk lokal di luar komunitas Dayak, ada kemungkinan mereka mengenalnya dengan sebutan berbeda. Di Riau, tanaman ini dikenal sebagai Kriat betina. Di Sumatra secara lebih umum, disebut Lakun. Ada juga sebutan Akar engkaranak yang dipakai di sejumlah tempat. Kalau kamu sedang menelusuri informasi lebih jauh secara langsung ke masyarakat, nama-nama ini bisa jadi kata kunci yang lebih efektif dibanding “akar gamat” atau nama ilmiahnya.

FAQ

Kalau menemukan tanaman dengan ciri mirip di hutan, apa yang perlu dipastikan dulu sebelum yakin itu akar gamat?

Ciri paling khas untuk dipastikan adalah bentuk perbungaannya yang menyerupai daun pipih dan menggantung, karena ini jarang ditemukan pada liana lain di famili Vitaceae. Kombinasikan dengan daun majemuk tiga sampai lima helai bertepi bergigi halus, supaya lebih yakin bukan spesies Pterisanthes lain yang mirip.

Kenapa simplisia akar gamat belum ada, padahal sudah lama dipakai sebagai obat?

Simplisia biasanya muncul setelah ada proses standarisasi, seperti pengeringan dengan metode dan kadar air tertentu, yang umumnya dilakukan untuk tanaman obat yang sudah masuk industri jamu skala lebih besar. Akar gamat masih berada di tahap pemanfaatan langsung dari alam secara tradisional, belum sampai ke tahap itu.

Apakah getah akar gamat aman dioleskan langsung ke kulit tanpa diolah dulu?

Karena belum ada data kandungan kimia maupun uji keamanan yang terdokumentasi, tidak ada jaminan pasti soal reaksi kulit pada setiap orang. Praktik pemakaian langsung ini sepenuhnya berdasarkan pengalaman turun-temurun masyarakat Dayak, jadi kalau kamu punya riwayat kulit sensitif, sebaiknya jangan mencoba sendiri tanpa pendampingan orang yang memang berpengalaman menggunakannya.