Akar Ampelas Putih (Tetracera Scandens)

Redaksi DokteriaJumat, 3 Juli 2026 | 10:22 WIB
Akar Ampelas Putih (Tetracera Scandens)
Akar dan daun kasar tanaman ampelas putih (Tetracera scandens) yang biasa dipakai untuk ramuan tradisional

Akar ampelas putih adalah bagian tanaman merambat Tetracera scandens, dikenal juga dengan nama mempelas atau akar mempelas padang, yang di masyarakat dipakai secara turun-temurun untuk membantu meredakan diare, asam urat, dan luka, meski sebagian besar khasiat itu baru sebatas dibuktikan di laboratorium, belum lewat uji klinis pada manusia.

Kalau kamu baru dengar soal ini karena disaranin tetangga atau baca di grup WhatsApp keluarga, wajar kalau bingung. Nama “ampelas” sendiri dipakai buat beberapa tanaman berbeda, dan itu justru sumber kesalahan paling sering terjadi.

Kenapa Namanya Bisa Bikin Bingung: Ada Dua Tanaman yang Disebut “Ampelas”

Ini yang jarang dijelasin dengan jelas di kebanyakan tulisan sejenis. Di Indonesia, ada pohon bernama Ficus ampelas (juga disebut hampelas atau rampelas), sejenis pohon Ficus yang tingginya bisa sampai 20 meter, daunnya kasar dan memang dulu dipakai warga untuk mengamplas kayu. Getah dari batang dan akarnya juga dipakai sebagai obat tradisional untuk melancarkan air seni dan mengatasi diare.

Nah, “akar ampelas putih” yang paling sering dibahas di forum kesehatan herbal itu tanaman yang berbeda sama sekali. Namanya Tetracera scandens, dari keluarga Dilleniaceae, bukan Moraceae seperti pohon Ficus tadi. Bentuknya bukan pohon tegak, melainkan tanaman merambat atau liana yang bisa memanjang sampai 30 meter kalau menjalar di tepi sungai atau hutan sekunder, meski di lahan terbuka dia cuma jadi semak kecil setinggi 2 meter. Di Jawa disebut singaran, di Sunda asahan areuy, dan di Malaysia justru disebut persis “akar ampelas putih”.

Jadi kalau kamu ke penjual jamu dan minta “akar ampelas putih”, ada kemungkinan yang dikasih justru akar dari pohon Ficus karena nama daerahnya tumpang tindih. Bedanya gampang dicek dari bentuk fisiknya saja: kalau yang kamu pegang itu akar dari pohon besar berbatang tegak, itu Ficus. Kalau akarnya berasal dari tanaman merambat berbatang kayu tipis yang menjalar, itu baru Tetracera scandens, si akar ampelas putih yang sebenarnya jadi bahasan artikel ini.

Ciri-Ciri Fisik Tetracera Scandens

Batangnya berkayu, silindris, bisa mencapai diameter 16 cm pada tanaman yang sudah tua. Daunnya lonjong sampai bulat telur, permukaannya kasar kalau diraba (makanya disebut ampelas), tepinya bergerigi, panjang sekitar 6-12 cm. Bunganya kecil-kecil, putih, berkumpul dalam malai yang bisa memanjang sampai 25 cm. Buahnya bujur oval dengan biji berbulu.

Tanaman ini tumbuh liar, belum banyak dibudidayakan secara komersial. Habitatnya di pinggiran sungai, hutan sekunder, semak belukar, dan daerah pesisir, biasanya di ketinggian di bawah 1.000 meter dari permukaan laut.

Kandungan Kimia yang Bikin Tanaman Ini Dilirik Peneliti

Dari beberapa penelitian fitokimia, akar dan daun Tetracera scandens mengandung flavonoid seperti kaempferol, quercetin, isoscutellarein, hypoletin, astragalin, dan genistein. Selain itu ada juga terpenoid (termasuk stigmasterol dan asam betulinat), alkaloid, senyawa fenol, tanin, dan minyak esensial.

Kombinasi senyawa inilah yang jadi alasan kenapa tanaman ini terus diteliti, bukan cuma dipercaya secara turun-temurun. Flavonoid dan tanin dikenal punya sifat antioksidan dan antibakteri, sementara genistein sudah lebih dulu terkenal di dunia farmakologi karena kaitannya dengan metabolisme gula darah.

Manfaat yang Dipercaya Secara Tradisional vs yang Sudah Diuji di Laboratorium

Ini bagian paling penting buat kamu pahami sebelum memutuskan pakai atau tidak. Banyak artikel soal akar ampelas putih cuma menumpuk daftar panjang khasiat tanpa membedakan mana yang sekadar kepercayaan turun-temurun dan mana yang sudah lewat uji ilmiah, meski baru sebatas uji sel atau hewan coba.

Secara tradisional, di berbagai daerah Asia Tenggara, akarnya dipakai sebagai obat astringen untuk diare, getah batangnya diminum untuk batuk, daun mudanya ditumbuk jadi tapal untuk gigitan ular berbisa, dan rebusan akarnya dipercaya membantu meredakan asam urat, radang, hepatitis, hingga gangguan saluran kemih. Air rebusan daun juga biasa dipakai untuk kumur mengatasi sariawan atau dioleskan ke luka bakar dan bisul.

Yang menarik, sebagian klaim itu ternyata punya dasar yang mulai terkonfirmasi lewat penelitian, walau masih di tahap awal. Sebuah tinjauan ilmiah yang merangkum berbagai studi tentang tanaman ini mencatat bahwa hanya sebagian kecil dari klaim tradisional yang sudah dipastikan lewat penelitian, sementara sisanya masih menunggu pembuktian lebih lanjut.

Aktivitas yang sudah punya dukungan riset laboratorium atau hewan coba:

Kemampuan merangsang penyerapan gula oleh sel otot, berkat senyawa turunan genistein, jadi salah satu dasar kenapa tanaman ini dikaitkan dengan pengelolaan gula darah. Ada juga aktivitas penghambatan enzim xantin oksidase, yang relevan langsung dengan klaim asam urat karena enzim itu memang berperan dalam produksi asam urat di tubuh. Selain itu tercatat pula efek antibakteri, antioksidan, dan pelindung hati pada percobaan dengan tikus yang mengalami kerusakan hati akibat racun.

Satu hal yang sering disalahpahami adalah soal aktivitas anti-HIV. Memang benar ada penelitian yang menemukan ekstrak etanol dari tanaman ini efektif menghambat replikasi virus HIV dan enzim reverse transcriptase-nya dalam uji sel di laboratorium. Tapi ini murni percobaan in vitro pada sel kultur, bukan uji pada manusia yang terinfeksi HIV. Jangan sampai temuan laboratorium ini ditafsirkan sebagai bukti tanaman ini bisa dipakai menggantikan terapi antiretroviral. Belum ada studi klinis besar yang memastikan efektivitas dan keamanannya untuk penggunaan pada manusia dengan HIV.

Cara Pakai Secara Tradisional

Cara paling umum yang beredar di masyarakat adalah merebus daun. Sekitar 5-7 lembar daun ampelas putih dicuci bersih, direbus dengan dua gelas air sampai mendidih, lalu daunnya diangkat dan air rebusannya diminum. Untuk keperluan melancarkan air seni, ada juga versi memakai sekitar 15 gram daun yang direbus 15 menit dengan satu gelas air, disaring, lalu diminum sekaligus.

Perlu diingat, takaran-takaran ini berasal dari kebiasaan turun-temurun, bukan dosis yang sudah distandarkan lewat penelitian farmakologi. Jadi kalau kamu memutuskan mencoba, anggap itu sebagai ramuan pendamping, bukan pengganti obat dari dokter, apalagi untuk kondisi yang butuh penanganan cepat seperti diare berat pada anak atau kadar asam urat yang sudah sangat tinggi.

Efek Samping dan yang Perlu Diwaspadai

Sejauh ini belum ada data publik yang mendokumentasikan efek samping serius dari konsumsi akar atau daun Tetracera scandens pada manusia dalam jumlah wajar. Tapi ketiadaan laporan efek samping bukan berarti aman sepenuhnya, karena memang belum banyak uji keamanan jangka panjang yang dilakukan secara sistematis.

Yang paling perlu diwaspadai justru bukan tanamannya, melainkan risiko salah identifikasi seperti yang sudah dijelaskan di awal. Kalau kamu membeli dari penjual jamu tanpa memastikan tanaman apa yang sebenarnya diberikan, kandungan kimia dan efeknya bisa jauh berbeda dari yang kamu harapkan.

Ibu hamil, ibu menyusui, dan orang dengan penyakit hati atau ginjal sebaiknya konsultasi ke dokter dulu sebelum mengonsumsi ramuan herbal apa pun, termasuk ini, karena metabolisme senyawa aktif di tubuh mereka bisa berbeda dari orang dewasa sehat pada umumnya.

Kapan Sebaiknya Tidak Mengandalkan Ramuan Ini Sendirian

Untuk keluhan ringan yang sifatnya sementara, misalnya perut sedikit kembung atau nyeri sendi ringan yang belum lama muncul, mencoba ramuan tradisional sebagai pendamping mungkin tidak masalah. Tapi begitu asam urat sudah menyebabkan bengkak parah, nyeri yang tidak tertahankan, atau diare disertai demam tinggi dan tanda dehidrasi, itu saatnya berhenti mengandalkan rebusan daun dan segera periksa ke fasilitas kesehatan.

Begitu juga untuk kondisi seperti hepatitis atau gangguan sistem imun, di mana keterlambatan penanganan medis bisa berakibat fatal. Ramuan herbal bisa jadi pelengkap, tapi bukan pengganti diagnosis dan pengobatan yang tepat dari tenaga medis.