Akar Ipoh Putih: Khasiat, Racikan, dan Bahaya

Redaksi DokteriaSelasa, 7 Juli 2026 | 07:04 WIB
Akar ipoh putih (Hugonia griffithiana), tanaman merambat obat tradisional dari hutan Sumatra dan Kalimantan
Akar ipoh putih (Hugonia griffithiana), tanaman merambat obat tradisional dari hutan Sumatra dan Kalimantan

Akar Ipoh Putih (Hugonia Griffithiana) adalah tanaman merambat yang akarnya secara turun-temurun direbus untuk mengatasi sakit perut, sembelit, rematik, sakit kepala, dan gejala malaria, meski sampai sekarang belum ada studi klinis besar yang memastikan khasiat itu secara ilmiah. Nama “ipoh” pada tanaman ini sering bikin orang salah paham, dan itu justru bagian paling penting yang perlu diluruskan sebelum bicara soal manfaatnya.

Ipoh Putih Itu Bukan Ipoh yang “Itu”

Ini masalah klasik yang jarang dijelaskan tuntas di artikel lain. Di banyak daerah Melayu dan Sumatra, kata “ipoh” dipakai untuk setidaknya tiga tanaman berbeda, dan ketiganya punya tingkat bahaya yang jauh berbeda pula.

Pertama ada pokok ipoh, pohon besar yang bisa tumbuh lebih dari 50 meter, nama ilmiahnya Antiaris toxicaria dari famili Moraceae. Getahnya sangat beracun dan dulu jadi bahan utama racun sumpit di Nusantara.

Kedua, ada akar ipoh biasa dari genus Strychnos, famili Loganiaceae, yang juga terkenal karena kandungan alkaloidnya yang keras (strychnine termasuk salah satu turunan yang berasal dari kerabat genus ini).

Ketiga, barulah akar ipoh putih, yang secara ilmiah dikenal sebagai Hugonia griffithiana, dengan nama sinonim Indorouchera griffithiana, dari famili Linaceae yang sama sekali berbeda dari dua tanaman sebelumnya.

Kekeliruan ini bukan cuma soal istilah. Kalau orang menyamakan ketiganya, risiko salah takaran atau salah asumsi soal tingkat racun jadi lebih besar. Nama lokal akar ipoh putih sendiri beragam tergantung daerah: andor pijom, akar tanduk, takkolan, olor nanas, olor silayur, dan surango etem di Sumatra, sementara di Sarawak masyarakat Iban menyebutnya wa bakar.

Mengenali Tanaman di Alam

Akar ipoh putih tumbuh sebagai liana atau tanaman pemanjat berkayu yang panjangnya bisa mencapai 30 meter, menjalar dengan bantuan kait pemanjat yang khas di sepanjang batangnya. Daunnya berbentuk elips sampai bulat telur terbalik, dengan ujung meruncing memanjang dan tepi bergerigi halus, ciri yang memudahkan pengenalan di lapangan meski tanpa melihat bunga atau buahnya.

Bunganya kecil, tersusun dalam kelompok di ketiak daun, dengan mahkota tipis berwarna putih hingga kuning cerah. Buahnya berbentuk drupe bulat telur, berwarna kuning sampai merah saat matang, dengan diameter sekitar 8 milimeter.

Sebarannya cukup luas, mulai dari Kepulauan Nicobar di India, Thailand, sampai kawasan Malesia yang mencakup Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Jawa. Tanaman ini menyukai tempat terbuka seperti area perladangan, hutan sekunder, dan hutan hujan, biasa ditemukan sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, termasuk di daerah yang cenderung berawa.

Kenapa Disebut “Ipoh” Meski Bukan Racun Panah Utama

Nama ipoh melekat karena kulit batangnya memang mengeluarkan getah yang beracun, dan di masa lalu getah ini turut dipakai sebagai campuran racun panah dalam peperangan antarsuku. Fungsi ini membuatnya masuk dalam kelompok tumbuhan “ipoh” secara bahasa, walau secara botani ia berdiri sendiri di famili Linaceae yang jauh dari kerabat pokok ipoh maupun Strychnos.

Selain getahnya, kayu akar ipoh putih juga punya nilai guna lain. Di Sarawak, kayunya biasa diolah menjadi gagang parang karena cukup kuat dan tahan lama. Jadi tanaman ini sebenarnya punya dua wajah: satu sisi mengandung racun yang cukup keras untuk keperluan berburu, sisi lain justru diolah jadi bahan bantu pertukangan sehari-hari.

Kandungan dan Cara Racikan Tradisional

Bagian akar tanaman ini mengandung senyawa mirip saponin, kelompok senyawa yang secara umum dikenal berperan dalam berbagai efek biologis pada tumbuhan, meski penelitian khusus soal saponin pada akar ipoh putih ini sendiri belum banyak dipublikasikan secara ilmiah.

Cara pengolahan tradisionalnya cukup sederhana. Akar dicuci bersih, lalu direbus dengan sekitar 150 mililiter air hingga mendidih, dan air rebusannya diminum tiga kali sehari selama tiga hari. Sebagian masyarakat juga memanfaatkan kulit kayunya dengan cara serupa. Racikan ini dipercaya membantu meredakan sakit perut, sembelit, gejala malaria, rematik, dan sakit kepala.

Penting dipahami, ini murni pengetahuan turun-temurun yang diwariskan lisan antar generasi. Belum ada uji klinis berskala besar yang memverifikasi dosis aman, efektivitas, atau interaksinya dengan obat lain. Mengingat tanaman satu famili yang sama juga dikenal mengeluarkan getah beracun di bagian batangnya, kehati-hatian soal bagian mana yang diolah dan berapa takaran yang dipakai jadi jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti resep turunan tanpa verifikasi.

Kapan Sebaiknya Tidak Coba-coba Sendiri

Banyak orang baru sadar pentingnya kehati-hatian ini setelah tahu bahwa getah pada kulit batang tanaman serumpun dipakai sebagai racun berburu. Artinya, potensi toksisitas pada bagian tertentu tanaman ini memang nyata, bukan sekadar mitos turunan. Racikan tradisional yang beredar biasanya sudah menyaring bagian mana yang “aman” dipakai berdasarkan pengalaman generasi sebelumnya, tapi itu tidak sama dengan jaminan keamanan farmakologis modern.

Kondisi yang membuat racikan ini sebaiknya dihindari antara lain saat sedang hamil atau menyusui, punya riwayat gangguan hati atau ginjal, sedang mengonsumsi obat resep lain, atau tidak yakin dengan identifikasi tanamannya sendiri. Mengingat ada tiga jenis “ipoh” yang gampang tertukar, salah ambil tanaman bisa berakibat jauh lebih serius daripada sekadar tidak mempan mengobati keluhan.

Kalau keluhan seperti sakit perut, sembelit, atau sakit kepala berlangsung lama atau makin berat, konsultasi ke tenaga medis tetap jadi langkah paling aman, sementara pemanfaatan tanaman ini sebagai pelengkap bisa didiskusikan dengan herbalis atau praktisi yang memang memahami identifikasi botani secara pasti.

FAQ

Apakah akar ipoh putih sama dengan akar ipoh yang dipakai racun panah?

Tidak sama persis. Racun panah tradisional lebih identik dengan getah pokok ipoh (Antiaris toxicaria) dan akar ipoh dari genus Strychnos. Akar ipoh putih (Hugonia griffithiana) berasal dari famili berbeda, meski getah pada kulit batangnya juga tercatat pernah dipakai sebagai campuran racun panah di beberapa daerah.

Bagian mana dari akar ipoh putih yang biasa dipakai untuk obat?

Akarnya yang direbus, dan pada beberapa resep tradisional kulit kayunya juga ikut dimanfaatkan dengan cara serupa.

Apakah aman dikonsumsi tanpa pengawasan?

Belum ada studi klinis besar yang memastikan keamanan dan dosis pastinya, sehingga penggunaan tanpa pendampingan orang yang paham identifikasi tanaman dan kondisi kesehatan pribadi sebaiknya dihindari.