Adas Cina (Bunga Lawang) – Illicium verum

Redaksi DokteriaJumat, 3 Juli 2026 | 06:52 WIB
Adas Cina (Bunga Lawang) - Illicium verum
Adas Cina (Bunga Lawang) - Illicium verum

Adas Cina, yang lebih dikenal dengan nama bunga lawang atau pekak, sebenarnya bukan adas sama sekali. Nama ilmiahnya Illicium verum, tanaman berbeda famili dari adas (Foeniculum vulgare) maupun adas manis (Pimpinella anisum), meski aromanya memang mirip karena sama-sama mengandung senyawa anetol.

Nah, ini yang sering bikin orang kebingungan pas mau cari informasi soal “adas hutan” atau “adas cina” di internet. Bayangkan situasinya kayak Tante Wati, 52 tahun, yang baru dengar dari grup WhatsApp keluarga kalau “adas cina bisa bikin badan segar dan cegah flu”, terus dia langsung googling sambil mikir mau beli di pasar mana.

Tapi begitu sampai di toko rempah, dia ditawarin tiga jenis benda berbeda yang semuanya diberi label “adas”: ada yang bentuknya biji kecil, ada yang bentuknya bintang cokelat gelap. Bingung kan mana yang benar?

Jawabannya begini. Kalau yang dimaksud “adas cina” merujuk pada bumbu berbentuk bintang delapan sudut berwarna cokelat tua yang biasa dipakai di masakan Tionghoa seperti semur atau kaldu, itu namanya bunga lawang, alias star anise, alias Illicium verum.

Bukan biji kecil lonjong yang biasa disebut adas manis atau jintan manis dalam bumbu roti dan kue. Dua-duanya memang sama-sama disebut “adas” di lidah masyarakat kita, tapi asal tanamannya jauh berbeda.

Kenapa Nama “Adas” Bisa Menempel di Tiga Tanaman Berbeda

Ini bukan salah orang awam. Bahkan literatur pengobatan tradisional Jawa sendiri mengakui kerancuan ini. Istilah “adas pulosari”, “adas manis“, “adas bintang”, sampai “adas pedas” semuanya beredar dan kadang dipakai bergantian, padahal merujuk pada tanaman yang tidak sama.

Penyebabnya sederhana: rasa dan aromanya mirip. Baik adas (Foeniculum vulgare), adas manis (Pimpinella anisum), maupun bunga lawang (Illicium verum) sama-sama mengandung anetol, senyawa yang memberi rasa manis khas licorice.

Lidah orang zaman dulu menangkap kemiripan rasa itu, lalu menamai ketiganya dengan kata yang sama, padahal secara botani mereka berada di famili tumbuhan yang sama sekali berbeda.

Adas dan adas manis masih satu famili Apiaceae (mirip wortel dan seledri), sementara bunga lawang berasal dari famili Schisandraceae, pohon kecil asli dataran selatan Tiongkok dan utara Vietnam.

Jadi kalau artikel ini fokus membahas “Adas Cina”, yang dimaksud adalah bunga lawang. Nama itu memang salah satu sebutan resmi yang dipakai orang Melayu untuk Illicium verum, berdampingan dengan sebutan lain seperti pekak, badian, dan star anise.

Kandungan Utama yang Bikin Bunga Lawang Istimewa

Yang membedakan bunga lawang dari rempah dapur biasa adalah kandungan asam sikimat (shikimic acid) dalam jumlah cukup besar. Senyawa inilah yang menjadikan bunga lawang bahan baku utama pembuatan oseltamivir, obat antivirus yang lebih dikenal dengan merek dagang Tamiflu.

Tapi ini bagian yang sering disalahpahami. Makan bunga lawang langsung, atau minum tehnya, tidak sama dengan minum obat Tamiflu. Proses ekstraksi asam sikimat jadi oseltamivir melalui serangkaian tahap kimia farmasi yang panjang, dengan dosis dan kemurnian yang jauh berbeda dari kadar alami dalam satu buah bunga lawang.

Jadi kalau ada yang bilang “makan bunga lawang saja biar kebal flu burung”, itu melebih-lebihkan. Yang lebih tepat, bunga lawang secara tradisional dipercaya membantu meredakan gejala flu ringan dan mendukung sistem imun, bukan menggantikan pengobatan antivirus yang diresepkan dokter.

Selain asam sikimat, bunga lawang juga mengandung anetol dan linalool, dua senyawa yang berperan sebagai antioksidan dan punya sifat antibakteri ringan. Kombinasi ini yang membuat rempah ini juga dipakai turun-temurun untuk membantu meredakan perut kembung dan gangguan pencernaan ringan, meski sekali lagi, belum ada studi klinis besar berskala manusia yang memastikan efektivitasnya secara pasti.

Manfaat yang Secara Tradisional Dipercaya

Berikut yang paling sering disebut dalam praktik pengobatan tradisional Tiongkok dan Asia Tenggara:

  • Membantu meredakan perut kembung dan gangguan pencernaan
  • Digunakan sebagai bahan teh untuk meredakan gejala batuk ringan
  • Minyak atsirinya dipakai untuk pijat meredakan mual pada ibu hamil (dalam jumlah sangat kecil dan dengan pengawasan)
  • Aromanya dipercaya punya efek menenangkan, sering dipakai dalam aromaterapi
  • Secara tradisional dianggap punya sifat diuretik ringan

Perlu digarisbawahi, daftar di atas adalah kepercayaan turun-temurun, bukan hasil uji klinis yang membuktikan dosis dan efektivitas pastinya pada manusia. Kalau kamu punya kondisi kesehatan tertentu atau sedang minum obat rutin, konsultasi dulu ke dokter sebelum menjadikan bunga lawang sebagai “obat” harian, bukan sekadar bumbu masak.

Bahaya yang Justru Lebih Penting Diketahui daripada Manfaatnya

Ini bagian yang menurut saya paling sering dilewatkan artikel-artikel lain, padahal justru paling krusial buat keselamatan, terutama kalau di rumah ada bayi atau anak kecil.

Ada spesies lain bernama Illicium anisatum, dikenal sebagai bunga lawang Jepang atau shikimi, yang bentuknya nyaris identik dengan bunga lawang asli tapi bersifat racun. Kandungan neurotoksin di dalamnya, seperti anisatin, bekerja mengganggu reseptor GABA di otak dan bisa memicu kejang, terutama pada bayi.

Yang bikin ini berbahaya bukan cuma soal racunnya, tapi soal ketidakmungkinan membedakannya secara kasat mata. Badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) secara eksplisit menyatakan bahwa dalam bentuk kering, bunga lawang asli dan bunga lawang Jepang tidak bisa dibedakan hanya lewat penampilan fisik.

Bahkan pedagang rempah profesional pun bisa keliru. FDA sendiri pernah mengeluarkan advisori resmi setelah menemukan sekitar 40 kasus keracunan, sekitar 15 di antaranya bayi, akibat teh bunga lawang yang tercemar dengan spesies Jepang. Gejalanya mulai dari kejang, muntah, sampai gerakan mata tidak normal.

Ini yang bikin banyak orang tua baru sadar setelah kejadian, bukan sebelum: kebiasaan turun-temurun memberi teh bunga lawang untuk meredakan kolik pada bayi ternyata justru berisiko tinggi, karena tidak ada cara aman memastikan bunga lawang yang dipakai bebas dari kontaminasi spesies beracun. Karena itu, jangan pernah memberikan air rebusan atau teh bunga lawang kepada bayi, seberapa pun kecil dosisnya, dan tetap berhati-hati bila hendak memberikannya pada anak-anak.

Untuk penggunaan sebagai bumbu masak dalam jumlah wajar (misalnya satu sampai dua buah dalam semangkuk kaldu atau sup), risikonya jauh lebih rendah karena dosisnya kecil dan biasanya dibuang setelah dimasak, bukan diminum airnya secara terkonsentrasi seperti teh. Tapi kalau tujuannya bikin teh herbal atau minum langsung dalam bentuk rebusan pekat, potensi paparan racunnya jadi lebih tinggi karena senyawa dari bunga tersebut lebih banyak terekstrak ke air.

Cara Sederhana Mengurangi Risiko

Beberapa langkah praktis yang bisa membantu:

Situasi Yang sebaiknya dilakukan
Beli bunga lawang untuk masak Pilih penjual/merek yang jelas mencantumkan Illicium verum pada label
Mau bikin teh herbal Pertimbangkan ulang, terutama untuk konsumsi rutin
Ada bayi/anak kecil di rumah Jangan berikan teh atau rebusan bunga lawang sama sekali
Sedang hamil/menyusui Konsultasi dokter dulu sebelum konsumsi rutin
Sedang minum obat resep Tanyakan ke dokter/apoteker soal potensi interaksi

Setelah tabel ini, satu hal yang perlu diingat: label “organik” atau “alami” pada kemasan tidak otomatis menjamin bebas kontaminasi spesies Jepang. Yang penting justru sumber dan reputasi penjualnya, apakah mereka melakukan uji laboratorium terhadap produk yang dijual atau tidak.

Adas Cina vs Adas Manis vs Adas Biasa, Biar Nggak Salah Beli Lagi

Supaya nggak bolak-balik bingung tiap ke pasar, ini perbandingan singkatnya.

Adas (Foeniculum vulgare) bentuknya biji lonjong kecil berwarna hijau kecokelatan, biasa dipakai di bumbu masakan Timur Tengah dan India, juga bahan baku minyak telon.

Adas manis (Pimpinella anisum) juga berbentuk biji kecil, sering dipakai dalam bumbu roti, kue kering, dan minuman herbal Eropa. Sering tertukar penyebutannya dengan bunga lawang karena rasanya memang mirip.

Adas Cina alias bunga lawang (Illicium verum), ini yang jadi topik utama kita, bentuknya bintang delapan sudut, warna cokelat gelap, dan biasanya utuh (bukan biji kecil terpisah).

Kalau di kemasan tertulis “adas bintang” atau “star anise”, itu pasti bunga lawang. Kalau tertulis “biji adas” atau “jintan manis” tanpa gambar bintang, kemungkinan besar itu adas atau adas manis, bukan adas cina.

Cara Pakai yang Aman untuk Dapur Sehari-hari

Untuk masakan seperti semur, rendang, atau kaldu, cukup masukkan satu sampai dua buah bunga lawang utuh selama proses memasak, lalu angkat sebelum disajikan. Rempah ini tidak melunak meski direbus lama, jadi kalau tertelan utuh berpotensi jadi bahaya tersedak, terutama untuk anak kecil.

Kalau ingin membuat minuman hangat dari bunga lawang untuk orang dewasa, gunakan dalam jumlah sedikit (satu buah per cangkir) dan jangan dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang tanpa jeda. Ingat, ini beda dengan penggunaan sebagai bumbu yang dibuang setelah masak. Meminum air seduhannya secara rutin berarti tubuh terpapar senyawa aktifnya secara konsentrat, bukan sekadar cita rasa.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah bunga lawang sama dengan pekak?

Ya, sama persis. Pekak adalah sebutan lain dalam bahasa Melayu untuk Illicium verum.

Apakah aman minum teh bunga lawang setiap hari?

Belum ada data klinis besar yang memastikan batas aman konsumsi jangka panjang pada manusia. Karena risiko kontaminasi spesies beracun juga sulit dihindari sepenuhnya, sebaiknya tidak dijadikan minuman harian rutin, apalagi untuk anak-anak.

Kalau sudah terlanjur beli dan tidak yakin itu asli atau bukan, bagaimana?

Karena secara kasat mata memang tidak bisa dibedakan, cara paling aman adalah memastikan asal produk dari penjual atau merek tepercaya, bukan mencoba mengecek sendiri lewat bentuk atau bau.