Altitude sickness atau penyakit ketinggian adalah kondisi yang terjadi ketika tubuh kesulitan beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah di dataran tinggi. Gejala yang paling umum meliputi sakit kepala, mual, pusing, kelelahan, dan gangguan tidur. Mengenali kondisi ini sejak dini penting karena pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang mengancam nyawa.
Sebagian besar kasus altitude sickness membaik setelah istirahat, menghentikan pendakian, atau turun ke ketinggian yang lebih rendah. Namun, bentuk yang lebih berat memerlukan penanganan medis segera.
Ringkasan Penyakit
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama kondisi | Altitude sickness (penyakit ketinggian) |
| Penyebab utama | Paparan ketinggian dengan kadar oksigen yang lebih rendah |
| Gejala awal | Sakit kepala, mual, pusing, kelelahan |
| Organ yang terdampak | Seluruh tubuh, terutama otak dan paru-paru |
| Faktor risiko | Pendakian cepat, ketinggian tinggi, riwayat altitude sickness |
| Pengobatan | Istirahat, menghentikan kenaikan ketinggian, turun ke tempat lebih rendah, terapi medis bila diperlukan |
| Dapat dicegah | Ya, dengan aklimatisasi yang tepat |
| Tingkat kegawatan | Ringan hingga darurat medis |
Pengertian Altitude Sickness
Altitude sickness adalah kumpulan gejala yang muncul ketika seseorang naik ke daerah dengan ketinggian yang cukup tinggi sehingga tubuh belum sempat beradaptasi terhadap penurunan tekanan udara dan kadar oksigen.
Kondisi ini paling sering terjadi pada orang yang melakukan pendakian gunung, perjalanan ke daerah pegunungan, atau aktivitas lain di dataran tinggi. Risiko meningkat ketika kenaikan ketinggian dilakukan terlalu cepat.
Dalam dunia medis, altitude sickness sering disebut juga sebagai Acute Mountain Sickness (AMS). Selain AMS, terdapat dua bentuk komplikasi yang lebih berat, yaitu:
- High-Altitude Cerebral Edema (HACE) atau pembengkakan otak akibat ketinggian.
- High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE) atau penumpukan cairan di paru-paru akibat ketinggian.
Penyebab
Penyebab utama altitude sickness adalah berkurangnya ketersediaan oksigen di udara pada ketinggian yang lebih tinggi.
Meskipun persentase oksigen di atmosfer tetap sama, tekanan udara menurun seiring bertambahnya ketinggian. Akibatnya, jumlah oksigen yang dapat masuk ke dalam aliran darah menjadi lebih sedikit.
Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme adaptasi yang disebut aklimatisasi, seperti meningkatkan frekuensi napas dan menyesuaikan fungsi sirkulasi. Namun, proses ini membutuhkan waktu. Jika kenaikan ketinggian terjadi terlalu cepat, gejala altitude sickness dapat muncul sebelum tubuh sempat beradaptasi.
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko altitude sickness meliputi:
- Naik ke dataran tinggi terlalu cepat.
- Tidur pada ketinggian yang jauh lebih tinggi dibanding malam sebelumnya.
- Riwayat altitude sickness sebelumnya.
- Aktivitas fisik berat segera setelah mencapai ketinggian tinggi.
- Kurangnya waktu untuk aklimatisasi.
- Ketinggian yang semakin ekstrem.
- Riwayat tertentu yang memengaruhi kemampuan tubuh beradaptasi terhadap hipoksia (kekurangan oksigen).
Perlu diketahui bahwa usia muda, kondisi fisik yang baik, atau pengalaman mendaki tidak menjamin seseorang kebal terhadap altitude sickness.
Gejala
Gejala Altitude Sickness Ringan hingga Sedang (AMS)
Gejala biasanya muncul beberapa jam setelah mencapai ketinggian tertentu dan dapat meliputi:
- Sakit kepala.
- Pusing atau kepala terasa ringan.
- Mual atau muntah.
- Hilang nafsu makan.
- Kelelahan yang tidak biasa.
- Sesak saat beraktivitas.
- Sulit tidur.
- Tubuh terasa lemah.
Gejala High-Altitude Cerebral Edema (HACE)
HACE merupakan keadaan darurat medis. Gejalanya dapat berupa:
- Gangguan keseimbangan saat berjalan.
- Kebingungan atau perubahan perilaku.
- Penurunan kesadaran.
- Sulit berbicara.
- Koordinasi tubuh memburuk.
Gejala High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE)
HAPE juga merupakan kondisi yang mengancam nyawa. Gejalanya meliputi:
- Sesak napas saat istirahat.
- Batuk yang semakin berat.
- Penurunan kemampuan beraktivitas.
- Dada terasa sesak.
- Napas cepat.
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan akibat kekurangan oksigen.
Diagnosis
Diagnosis altitude sickness umumnya ditegakkan berdasarkan:
- Riwayat perjalanan ke dataran tinggi.
- Kecepatan kenaikan ketinggian.
- Gejala yang dialami.
- Pemeriksaan fisik oleh tenaga kesehatan.
Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk menilai kadar oksigen atau menyingkirkan kondisi lain yang memiliki gejala serupa.
Pada kasus yang dicurigai sebagai HACE atau HAPE, evaluasi medis segera diperlukan karena kedua kondisi tersebut dapat berkembang dengan cepat.
Pengobatan
Penanganan altitude sickness bergantung pada tingkat keparahannya.
Kasus Ringan
Langkah yang biasanya dianjurkan meliputi:
- Beristirahat.
- Menghentikan pendakian sementara.
- Menghindari kenaikan ketinggian lebih lanjut sampai gejala membaik.
- Menjaga asupan cairan yang cukup.
Kasus Sedang hingga Berat
Jika gejala memburuk atau tidak membaik, penanganan dapat mencakup:
- Turun ke ketinggian yang lebih rendah.
- Pemberian oksigen tambahan.
- Terapi medis sesuai penilaian dokter.
- Perawatan di fasilitas kesehatan.
Pada HACE dan HAPE, penurunan ketinggian dan penanganan medis darurat merupakan tindakan yang sangat penting.
Komplikasi
Tanpa penanganan yang tepat, altitude sickness dapat menyebabkan komplikasi serius, yaitu:
High-Altitude Cerebral Edema (HACE)
Pembengkakan otak yang dapat menyebabkan:
- Gangguan neurologis berat.
- Penurunan kesadaran.
- Koma.
- Kematian jika tidak ditangani.
High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE)
Penumpukan cairan di paru-paru yang dapat menyebabkan:
- Gagal napas.
- Kekurangan oksigen berat.
- Kematian jika tidak segera ditangani.
Pencegahan
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk mengurangi risiko altitude sickness.
Beberapa strategi yang direkomendasikan meliputi:
- Naik secara bertahap agar tubuh memiliki waktu beradaptasi.
- Menyediakan waktu aklimatisasi yang cukup.
- Menghindari peningkatan ketinggian tidur yang terlalu cepat.
- Mengurangi aktivitas fisik berat pada hari-hari awal di ketinggian.
- Mengenali gejala awal dan tidak memaksakan pendakian jika gejala muncul.
- Mengikuti saran medis bagi individu yang memiliki riwayat altitude sickness atau faktor risiko tertentu.
Pada sebagian situasi, dokter dapat mempertimbangkan obat pencegahan tertentu sebelum perjalanan ke dataran tinggi. Penggunaannya harus berdasarkan rekomendasi tenaga medis.
Prognosis
Prognosis altitude sickness umumnya baik jika gejala dikenali sejak awal dan tindakan yang tepat segera dilakukan.
Sebagian besar kasus ringan membaik dalam waktu singkat setelah istirahat, aklimatisasi, atau turun ke ketinggian yang lebih rendah. Namun, HACE dan HAPE merupakan keadaan yang berpotensi fatal sehingga membutuhkan penanganan segera.
Kapan Harus ke Dokter
Segera cari pertolongan medis jika:
- Sakit kepala berat tidak membaik.
- Mual dan muntah semakin parah.
- Sulit berjalan atau kehilangan keseimbangan.
- Mengalami kebingungan atau perubahan kesadaran.
- Sesak napas saat beristirahat.
- Batuk semakin berat.
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
- Gejala terus memburuk meskipun sudah beristirahat atau menghentikan pendakian.
Jika gejala mengarah ke HACE atau HAPE, kondisi tersebut harus dianggap sebagai darurat medis.
Poin Penting yang Perlu Diingat
- Altitude sickness terjadi karena tubuh belum beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah di dataran tinggi.
- Gejala awal yang paling umum adalah sakit kepala, mual, pusing, dan kelelahan.
- Pendakian yang terlalu cepat merupakan faktor risiko utama.
- Sebagian besar kasus ringan membaik dengan istirahat dan aklimatisasi.
- HACE dan HAPE adalah komplikasi serius yang memerlukan penanganan darurat.
- Pencegahan terbaik adalah kenaikan ketinggian secara bertahap dan mengenali gejala sejak dini.
FAQ
Pada ketinggian berapa altitude sickness dapat terjadi?
Risiko mulai meningkat ketika seseorang mencapai ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, meskipun gejala dapat bervariasi pada setiap individu.
Apakah semua pendaki akan mengalami altitude sickness?
Tidak. Namun, siapa pun dapat mengalaminya, termasuk orang yang sehat dan berpengalaman.
Apakah altitude sickness bisa sembuh sendiri?
Kasus ringan sering membaik dengan istirahat dan aklimatisasi yang memadai. Namun, gejala yang memburuk memerlukan evaluasi medis.
Apakah kebugaran fisik mencegah altitude sickness?
Tidak sepenuhnya. Kondisi fisik yang baik tidak menjamin seseorang terhindar dari altitude sickness.
Apakah anak-anak bisa mengalami altitude sickness?
Ya. Anak-anak juga dapat mengalami altitude sickness dan perlu dipantau jika berada di dataran tinggi.
Referensi
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). High-Altitude Travel and Altitude Illness. Yellow Book.
- National Health Service (NHS). Altitude Sickness.
- Mayo Clinic. Altitude Sickness: Symptoms and Causes.
- Cleveland Clinic. Altitude Sickness (Acute Mountain Sickness).
- MSD Manual Professional Edition. Altitude Illness.
- MedlinePlus. Altitude Sickness.
- Wilderness Medical Society. Clinical Practice Guidelines for the Prevention and Treatment of Acute Altitude Illness.
- Merck Manual Consumer Version. Altitude Sickness.
- International Society for Mountain Medicine (ISMM). Altitude Illness Resources.
- Hackett PH, Roach RC. High-Altitude Illness. New England Journal of Medicine. 2001.






