Acrivastine

Redaksi DokteriaSenin, 22 Juni 2026 | 20:50 WIB
Acrivastine — Obat Alergi Non-Sedatif yang Perlu Kamu Tahu
Acrivastine — Obat Alergi Non-Sedatif yang Perlu Kamu Tahu

Acrivastine adalah obat antihistamin generasi kedua yang digunakan untuk meredakan gejala alergi. Obat ini termasuk dalam kelas penghambat reseptor H1, digunakan untuk mengatasi gejala terkait rhinitis alergi musiman, urtikaria, angioedema, dan dermatitis atopik. Obat ini umumnya tersedia dalam bentuk kapsul dan dapat diperoleh tanpa resep di beberapa negara.

Apa Itu Acrivastine?

Acrivastine adalah antihistamin yang termasuk golongan non-sedatif — artinya lebih kecil kemungkinannya menyebabkan kantuk dibanding antihistamin lain. Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, dan terkadang dikombinasikan dengan dekongestan pseudoephedrine untuk membuka hidung tersumbat.

Acrivastine merupakan antihistamin generasi kedua. Setiap kapsul mengandung 8 mg acrivastine. Kapsul berbentuk gelatin keras berukuran sekitar 16 mm, berwarna putih.

Catatan BPOM: Nomor registrasi acrivastine di BPOM RI belum ditemukan dari sumber resmi yang dapat diverifikasi. Pastikan mengecek status izin edar produk di cekbpom.pom.go.id sebelum membeli.

Kegunaan / Indikasi

Acrivastine digunakan untuk mengatasi hay fever, konjungtivitis alergi (mata merah dan gatal), eksim, serta biduran (urtikaria). Obat ini juga digunakan untuk reaksi akibat gigitan atau sengatan serangga, serta beberapa jenis alergi makanan.

Berdasarkan MIMS Indonesia, acrivastine digunakan untuk mengatasi rhinitis akibat perubahan musim, serta idiopati urtikaria kronis — yaitu gatal-gatal atau biduran yang belum jelas penyebabnya.

Kandungan / Bahan Aktif

Bahan aktif dalam setiap kapsul adalah acrivastine 8 mg. Eksipien yang perlu diperhatikan adalah laktosa monohidrat (173 mg per kapsul) — penting bagi penderita intoleransi laktosa.

Mekanisme kerja: Saat tubuh terpapar zat yang memicu alergi — seperti serbuk sari, bulu hewan, atau gigitan serangga — tubuh memproduksi histamin. Histamin inilah yang menyebabkan gejala tidak nyaman seperti mata berair, hidung berair, bersin, dan ruam kulit. Acrivastine bekerja dengan memblokir efek histamin sehingga gejala-gejala tersebut berkurang.

Dosis dan Cara Penggunaan

Dewasa dan anak ≥ 12 tahun:

Dosis lazim untuk dewasa (hingga 65 tahun) dan anak usia 12 tahun ke atas adalah 1 kapsul, dikonsumsi hingga 3 kali sehari. Jangan mengonsumsi lebih dari 3 kapsul dalam 24 jam.

Acrivastine dapat diminum bersama atau tanpa makanan. Selalu minum dengan air, susu, atau jus — hindari jus jeruk bali karena dapat meningkatkan risiko efek samping.

Berapa lama dikonsumsi? Lamanya penggunaan tergantung kondisi. Bisa hanya satu dosis — misalnya saat reaksi gigitan serangga — atau lebih lama untuk mencegah gejala hay fever musiman. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker jika tidak yakin.

Anak di bawah 12 tahun dan lansia di atas 65 tahun: Ikuti petunjuk dokter. Acrivastine tidak direkomendasikan untuk orang di atas 65 tahun karena penelitian pada kelompok usia ini masih sangat terbatas.

Peringatan dan Kontraindikasi

Acrivastine dikontraindikasikan pada individu dengan hipersensitivitas terhadap acrivastine, triprolidine, atau bahan tambahan dalam kapsul. Ekskresi utama acrivastine melalui ginjal; oleh karena itu, obat ini tidak boleh diberikan kepada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang signifikan hingga ada studi lebih lanjut.

Kelompok yang perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan acrivastine:

  • Ibu hamil: Acrivastine tidak direkomendasikan pada kehamilan. Antihistamin serupa bernama loratadine biasanya dipilih lebih dulu karena lebih banyak data keamanannya.
  • Ibu menyusui: Jika bayi sehat, acrivastine dapat digunakan saat menyusui, namun sebaiknya hanya sesekali atau dalam waktu singkat. Konsultasikan dengan dokter lebih dulu karena ada pilihan obat lain yang lebih direkomendasikan.
  • Lansia: Seperti disebutkan di atas, keamanan pada usia di atas 65 tahun belum cukup diteliti.
  • Penderita gangguan ginjal: Diperlukan konsultasi dokter sebelum penggunaan.

Efek Samping

Umum (terjadi pada >1 dari 10 orang):

Efek samping paling umum dari acrivastine adalah rasa kantuk dan kelelahan.

Umum lainnya (terjadi pada >1 dari 100 orang):

Efek samping umum lain meliputi mulut kering dan pusing. Hindari berkendara atau mengoperasikan mesin jika mengalami pusing atau kantuk.

Serius (jarang — segera cari bantuan medis):

Dalam kasus yang jarang, dapat terjadi reaksi alergi serius (anafilaksis). Tanda-tandanya meliputi pembengkakan mendadak pada bibir, mulut, tenggorokan atau lidah; kesulitan bernapas; rasa tercekik; kulit, lidah atau bibir berubah kebiruan atau pucat; serta kebingungan mendadak atau pusing berat.

Interaksi Obat

Penggunaan acrivastine bersamaan dengan depresan SSP — termasuk alkohol, sedatif, dan obat penenang — dapat meningkatkan gangguan kewaspadaan mental pada sebagian orang.

Obat-obatan yang perlu diwaspadai interaksinya antara lain midodrine (untuk tekanan darah rendah) dan ketoconazole (antijamur). Tanyakan kepada apoteker atau dokter sebelum mengombinasikan dengan obat lain, termasuk suplemen herbal.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter atau tenaga kesehatan jika:

  • Gejala tidak membaik setelah 2–3 hari penggunaan.
  • Muncul tanda-tanda reaksi alergi serius seperti yang disebutkan di atas.
  • Pusing atau kantuk tidak kunjung hilang dan mengganggu aktivitas.
  • Sedang hamil, menyusui, berusia di atas 65 tahun, atau memiliki riwayat gangguan ginjal.
  • Ingin memberikan obat ini pada anak di bawah 12 tahun.

FAQ

Apakah acrivastine menyebabkan kantuk? Acrivastine termasuk antihistamin non-sedatif, sehingga lebih kecil kemungkinannya menyebabkan kantuk. Namun, sebagian orang tetap bisa merasakan kantuk setelah mengonsumsinya. Hindari berkendara jika merasakan efek ini.

Berapa lama acrivastine mulai bekerja? Acrivastine biasanya mulai meredakan gejala alergi dalam 1–2 jam setelah konsumsi.

Bolehkah acrivastine diminum setiap hari? Acrivastine dapat diminum setiap hari selama diperlukan untuk mengontrol gejala alergi. Selalu ikuti aturan dosis pada kemasan atau petunjuk dokter.

Apakah acrivastine aman untuk anak-anak? Acrivastine yang dijual bebas di apotek hanya boleh dikonsumsi oleh anak berusia 12 tahun ke atas. Untuk anak di bawah usia tersebut, diperlukan resep dan pengawasan dokter.

Apa bedanya acrivastine dengan antihistamin lain? Acrivastine memiliki cara kerja serupa dengan antihistamin non-sedatif lain seperti cetirizine, loratadine, dan fexofenadine. Perbedaannya, acrivastine perlu diminum 3 kali sehari, sementara antihistamin non-sedatif lainnya cukup sekali sehari.

Bolehkah acrivastine diminum bersama alkohol? Penggunaan acrivastine bersamaan dengan alkohol dapat meningkatkan gangguan kewaspadaan. Hindari konsumsi alkohol selama menggunakan obat ini.

Bagaimana cara menyimpan acrivastine? Simpan di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari paparan sinar matahari langsung dan jangkauan anak-anak.

Apakah acrivastine tersedia tanpa resep di Indonesia? Status registrasi acrivastine di BPOM RI belum dapat diverifikasi dari sumber resmi. Disarankan untuk mengecek langsung di cekbpom.pom.go.id atau berkonsultasi dengan apoteker.

Poin Penting yang Perlu Diingat

  1. Acrivastine digunakan untuk rhinitis alergi musiman dan urtikaria kronis idiopatik.
  2. Dosis standar untuk dewasa adalah 1 kapsul (8 mg) hingga 3 kali sehari, tidak melebihi 3 kapsul per 24 jam.
  3. Pasien dengan gangguan ginjal tidak boleh menggunakan acrivastine tanpa izin dokter karena eliminasi obat ini bergantung pada fungsi ginjal.
  4. Pada ibu hamil, loratadine umumnya lebih diutamakan karena data keamanannya lebih lengkap.
  5. Nomor registrasi BPOM RI untuk acrivastine belum ditemukan dari sumber resmi yang dapat diverifikasi — selalu cek di cekbpom.pom.go.id sebelum membeli.

Referensi

  1. National Health Service (NHS). “Acrivastine.” Diakses dari: https://www.nhs.uk/medicines/acrivastine/. Diakses pada: 2026.
  2. Electronic Medicines Compendium (emc). “Acrivastine 8 mg Capsules, hard — Summary of Product Characteristics.” Diakses dari: https://www.medicines.org.uk/emc/product/11990/smpc. Diakses pada: 2026.
  3. MIMS Indonesia. “Acrivastine: Uses, Dosage, Side Effects and More.” Diakses dari: https://www.mims.com/indonesia/drug/info/acrivastine. Diakses pada: 2026.
  4. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases — LiverTox. “Acrivastine.” Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK548605/. Diakses pada: 2026.

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi kesehatan umum. Artikel ini bukan pengganti diagnosis, saran, atau pengobatan medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan yang berkualifikasi, dan ikuti petunjuk penggunaan resmi yang tertera pada kemasan produk.