Blefaritis

Redaksi DokteriaKamis, 25 Juni 2026 | 15:32 WIB
Blefaritis - Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Blefaritis - Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Blefaritis adalah peradangan kronis pada tepi kelopak mata yang membuat area tersebut merah, bengkak, gatal, dan sering bersisik seperti ketombe di sela bulu mata. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut blepharitis. Kabar baiknya, blefaritis pada umumnya tidak menular dan jarang merusak penglihatan secara permanen, tetapi kabar yang perlu disiapkan sejak awal adalah kondisi ini biasanya tidak benar-benar sembuh total — ia lebih tepat digambarkan sebagai kondisi kronis yang dikontrol, bukan disembuhkan, melalui perawatan kelopak mata yang konsisten.

Gejala utamanya meliputi kelopak mata bengkak dan terasa berminyak, mata merah yang gatal atau perih, serta kerak di sekitar bulu mata yang kadang membuat kelopak lengket saat bangun tidur. Penyebab paling umum adalah pertumbuhan berlebih bakteri yang secara normal memang hidup di kulit kelopak mata, sumbatan pada kelenjar minyak di tepi kelopak, atau infestasi tungau mikroskopis bernama Demodex pada folikel bulu mata. Kondisi ini sangat umum terjadi, terutama pada orang dengan kulit berminyak, ketombe, atau rosacea.

Meski jarang mengancam penglihatan, blefaritis yang dibiarkan tanpa perawatan bisa memicu komplikasi berulang seperti bintitan, kalazion, hingga iritasi permukaan mata yang kronis — sehingga deteksi dan penanganan dini tetap penting untuk mencegah siklus kambuh yang mengganggu kenyamanan sehari-hari.

Ringkasan Penyakit

Aspek Penjelasan
Apa itu Radang kronis pada tepi kelopak mata
Menular? Tidak
Bisa sembuh total? Umumnya tidak — dikontrol, bukan disembuhkan
Penyebab utama Bakteri berlebih, sumbatan kelenjar minyak, tungau Demodex
Penanganan inti Kebersihan kelopak mata harian + kompres hangat
Kapan ke dokter Gejala tidak membaik dengan perawatan rumahan, nyeri hebat, gangguan penglihatan, atau luka pada kornea

Mengapa Blefaritis Terjadi?

Blefaritis terjadi karena respons sistem imun terhadap sesuatu yang dianggap sebagai zat asing, menyebabkan pembengkakan, iritasi, dan perubahan pada jaringan kelopak mata. Secara umum ada dua mekanisme utama yang mendasarinya:

Pertama, bakteri tertentu yang secara normal hidup di permukaan kelopak dan bulu mata dapat tumbuh berlebihan sehingga memicu inflamasi. Kedua, pori-pori kelenjar minyak di dasar bulu mata yang tersumbat juga dapat menjadi penyebab blefaritis. Pada sebagian kasus, penyebab pastinya tidak selalu dapat diketahui.

Selain dua mekanisme klasik tersebut, riset beberapa tahun terakhir menyoroti peran tungau Demodex — parasit mikroskopis yang secara alami hidup di folikel bulu mata manusia. Blefaritis dapat terjadi akibat populasi berlebih tungau Demodex ini di dalam folikel bulu mata, suatu subtipe yang kini dikenal sebagai Demodex blepharitis.

Jenis Blefaritis

Secara klinis, blefaritis dibedakan berdasarkan lokasi peradangannya:

  • Blefaritis anterior — terjadi ketika bagian luar depan kelopak mata, tempat bulu mata tumbuh, tampak merah atau lebih gelap dan bengkak, atau ditemukan serpihan seperti ketombe pada bulu mata.
  • Blefaritis posterior — menyerang tepi dalam kelopak mata yang menyentuh permukaan bola mata, umumnya terkait disfungsi kelenjar meibom (kelenjar minyak di kelopak).
  • Demodex blepharitis — subtipe yang dipicu infestasi tungau Demodex, dengan tanda khas berupa collarettes (serpihan berbentuk cincin di dasar bulu mata).

Kedua jenis pertama bisa terjadi bersamaan pada satu pasien. Salah satu bentuknya, blefaritis stafilokokus, lebih banyak menyerang perempuan — sekitar 80% kasus, meskipun secara umum blefaritis biasanya menyerang orang dewasa dan anak-anak dari kedua jenis kelamin secara setara.

Faktor Risiko

Beberapa kondisi kulit dan mata dapat meningkatkan risiko atau memperberat blefaritis, meski sifatnya korelasi, bukan hubungan sebab-akibat yang mutlak pada setiap individu:

  • Dermatitis seboroik (ketombe pada kulit kepala dan alis)
  • Rosacea
  • Mata kering atau gangguan produksi air mata
  • Penggunaan lensa kontak
  • Alergi mata
  • Infestasi tungau Demodex pada folikel bulu mata

Gejala

Gejala blefaritis umumnya lebih berat pada pagi hari dan dapat meliputi:

  • Kelopak mata bengkak
  • Perubahan warna pada kelopak mata
  • Gatal atau iritasi pada kelopak mata
  • Pengelupasan kulit di sekitar mata
  • Mata merah, terasa gatal atau perih
  • Kerak pada bulu mata dan ujung kelopak yang membuat kelopak lengket

Pada Demodex blepharitis secara spesifik, hampir seluruh pasien mengalami setidaknya satu gejala, dan sebagian besar melaporkan tiga gejala atau lebih — paling khas berupa serpihan berbentuk cincin (collarettes) di dasar bulu mata.

Diagnosis

Diagnosis blefaritis umumnya dilakukan melalui pemeriksaan mata langsung oleh dokter mata atau optometris, dengan fokus pemeriksaan pada tepi kelopak, bulu mata, dan kelenjar minyak. Respons terhadap pengobatan pada umumnya turut mengonfirmasi diagnosis. Dokter biasanya tidak memerlukan tes laboratorium khusus kecuali ada kecurigaan kondisi lain.

Jika tidak ada perbaikan dengan pengobatan — terutama bila hanya terjadi pada satu mata — dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk menyingkirkan kemungkinan kanker kulit kelopak mata atau gangguan autoimun. Tanda lain yang mengarah ke kondisi tersebut antara lain kerontokan bulu mata atau jaringan parut pada konjungtiva (selaput penutup bola mata).

Pengobatan

Tujuan terapi blefaritis bukan untuk “menyembuhkan” secara permanen, melainkan mengendalikan inflamasi, mengurangi gejala, dan mencegah kekambuhan serta komplikasi. Blefaritis memang tidak dapat disembuhkan, tetapi perawatan dan kebersihan harian umumnya dapat mengontrol gejalanya dengan baik, dan kondisi ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatan.

Lini pertama — perawatan rumahan: Pada kebanyakan kasus, langkah perawatan diri seperti membersihkan mata dan kompres hangat sudah cukup. Caranya secara umum: kompres hangat pada kelopak mata tertutup untuk melunakkan minyak yang menyumbat, diikuti pembersihan lembut tepi kelopak menggunakan kain bersih atau cotton bud yang dibasahi air hangat dan sedikit sampo bayi yang diencerkan atau pembersih kelopak mata bebas resep.

Lini kedua — terapi medis (bila perawatan rumahan tidak cukup): Jika langkah perawatan diri tidak memadai, dokter dapat menyarankan terapi resep, di antaranya:

  • Antibiotik — tersedia dalam bentuk obat tetes mata, krim, atau salep, dan telah terbukti membantu meredakan gejala yang terkait koloni bakteri pada kelopak mata.
  • Obat yang memengaruhi sistem imun — misalnya tetes mata siklosporin, yang terbukti membantu meredakan sejumlah tanda dan gejala blefaritis.
  • Terapi untuk kondisi penyerta — jika blefaritis dikaitkan dengan ketombe, rosacea, atau kondisi lain, mengobati penyakit yang mendasarinya dapat membantu mengontrol blefaritis.

Untuk Demodex blepharitis secara spesifik, sejak tahun 2023 tersedia terapi yang menyasar langsung tungau penyebabnya — lotilaner (Xdemvy), tetes mata pertama yang disetujui FDA Amerika Serikat untuk mengatasi Demodex blepharitis. Sebuah panel ahli internasional telah merekomendasikannya sebagai terapi lini pertama untuk Demodex blepharitis. Catatan penting: obat ini baru tersedia berdasarkan persetujuan FDA AS; ketersediaan dan regulasinya di Indonesia perlu dikonfirmasi langsung ke dokter mata atau apotek, karena belum ada konfirmasi BPOM yang dapat dipastikan saat artikel ini ditulis.

Poin penting yang perlu dipahami: walaupun pengobatan berhasil, blefaritis jarang menghilang sepenuhnya dan sering bersifat kronis sehingga membutuhkan perhatian harian berupa pembersihan kelopak mata secara rutin.

Komplikasi

Bila tidak ditangani dengan konsisten, blefaritis kronis dapat memicu beberapa komplikasi:

  • Bintitan (hordeolum) — benjolan nyeri pada tepi atau bagian dalam kelopak mata, biasanya disebabkan infeksi bakteri pada folikel bulu mata atau kelenjar minyak.
  • Kalazion — benjolan bengkak pada kelopak mata akibat kelenjar minyak yang tersumbat dan meradang; biasanya tidak nyeri, tetapi bisa terasa nyeri saat membesar.
  • Konjungtivitis berulang (mata merah) — blefaritis dapat menyebabkan kasus mata merah yang berulang akibat peradangan pada selaput penutup bola mata.
  • Gangguan lapisan air mata — kelebihan minyak, serpihan kulit, atau kotoran lain dapat membuat lapisan air mata tidak rata, sehingga memicu mata kering atau justru produksi air mata berlebih.
  • Masalah kulit kelopak mata jangka panjang — jaringan parut dapat terbentuk pada kelopak mata akibat blefaritis yang berlangsung lama, atau tepi kelopak dapat berbalik ke dalam maupun ke luar.
  • Iritasi kornea — gesekan dari kelopak yang meradang atau bulu mata yang arahnya salah dapat melukai permukaan kornea.

Pencegahan

Karena blefaritis bersifat kronis, “pencegahan” di sini lebih tepat dimaknai sebagai upaya menekan frekuensi kambuh:

  • Membersihkan kelopak mata secara rutin, terutama bila memiliki riwayat ketombe, rosacea, atau kulit berminyak
  • Mencuci tangan sebelum menyentuh area mata
  • Mengganti dan membersihkan lensa kontak sesuai jadwal yang dianjurkan
  • Mengganti produk riasan mata (maskara, eyeliner) secara berkala dan tidak berbagi alat makeup dengan orang lain
  • Mengelola kondisi kulit yang mendasari (rosacea, dermatitis seboroik) bersama dokter

Kapan Harus ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter mata bila mengalami salah satu kondisi berikut:

  • Gejala kelopak mata bengkak, merah, atau bersisik tidak membaik setelah 1–2 minggu menjalani perawatan rumahan (kompres hangat dan pembersihan kelopak rutin)
  • Muncul nyeri hebat pada mata atau kelopak, bukan sekadar gatal atau perih ringan
  • Terjadi penurunan tajam penglihatan atau penglihatan kabur yang tidak hilang setelah berkedip
  • Muncul benjolan yang membesar dengan cepat, sangat nyeri, atau disertai demam
  • Bulu mata rontok atau muncul jaringan parut pada permukaan mata — ini bisa menjadi tanda kondisi lain yang lebih serius dan butuh evaluasi segera
  • Gejala hanya terjadi pada satu mata dan tidak merespons pengobatan standar
  • Mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya disertai nyeri (kemungkinan keterlibatan kornea)

Poin Penting

  • Blefaritis adalah radang kronis tepi kelopak mata yang tidak menular dan jarang mengancam penglihatan.
  • Kondisi ini umumnya tidak sembuh total, tetapi dapat dikontrol dengan baik melalui kebersihan kelopak mata yang konsisten.
  • Penyebabnya bervariasi: bakteri berlebih, sumbatan kelenjar minyak, atau tungau Demodex.
  • Kompres hangat dan pembersihan kelopak adalah lini pertama; obat resep digunakan bila perawatan rumahan tidak cukup.
  • Untuk Demodex blepharitis, kini ada terapi spesifik yang menyasar tungau penyebabnya — diskusikan ketersediaannya dengan dokter mata Anda.
  • Waspadai gejala satu sisi, kerontokan bulu mata, atau luka pada kornea — ini butuh evaluasi medis untuk menyingkirkan kondisi lain.

FAQ

1. Apakah blefaritis menular ke orang lain? Tidak. Blefaritis tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain.

2. Apakah blefaritis bisa sembuh total? Umumnya tidak bisa disembuhkan secara permanen, tetapi perawatan dan kebersihan harian dapat mengontrol gejalanya secara efektif.

3. Apakah blefaritis berbahaya bagi penglihatan? Sebagian besar kasus blefaritis tidak menyebabkan kebutaan, meskipun komplikasi seperti iritasi kornea tetap mungkin terjadi bila dibiarkan tanpa perawatan.

4. Apa beda blefaritis, bintitan, dan kalazion? Blefaritis adalah peradangan kronis pada tepi kelopak mata secara umum. Bintitan adalah infeksi bakteri akut yang nyeri pada folikel bulu mata atau kelenjar minyak. Kalazion adalah benjolan akibat kelenjar minyak tersumbat, umumnya tidak nyeri. Bintitan dan kalazion bisa muncul sebagai komplikasi dari blefaritis yang tidak terkontrol.

5. Apakah blefaritis selalu disebabkan oleh tungau Demodex? Tidak selalu. Demodex hanya salah satu penyebab. Bakteri berlebih dan sumbatan kelenjar minyak juga merupakan penyebab umum lainnya, dan pada sebagian kasus penyebab pasti tidak dapat dipastikan.

6. Bolehkah memakai riasan mata saat blefaritis kambuh? Sebaiknya dihindari selama fase kambuh aktif, karena residu makeup dapat memperparah sumbatan kelenjar dan iritasi pada tepi kelopak.

7. Berapa lama pengobatan blefaritis menunjukkan hasil? Bervariasi antarindividu; sejumlah sumber klinis menyebutkan perbaikan dapat memerlukan beberapa minggu dengan perawatan konsisten, dan kekambuhan tetap mungkin terjadi sehingga perawatan jangka panjang sering diperlukan.

8. Apakah anak-anak juga bisa mengalami blefaritis? Ya, blefaritis dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa dari kedua jenis kelamin.


Referensi

  1. Mayo Clinic — Blepharitis: Symptoms & Causes dan Diagnosis & Treatment (diperbarui 2025)
  2. Cleveland Clinic — Blepharitis (Eyelid Inflammation): Causes & Treatment
  3. Cleveland Clinic — Chalazion: Symptoms, Causes, Prevention & Treatments
  4. American Academy of Ophthalmology (AAO) — What Is Blepharitis? (Desember 2025) dan What Is the Difference Between a Stye and a Chalazion?
  5. NHS — The Dudley Group NHS Foundation Trust, Lid Hygiene / Blepharitis and Chalazion
  6. PMC/NCBI — Lotilaner Ophthalmic Solution, 0.25%, for the Treatment of Demodex Blepharitis (review klinis)
  7. PMC/NCBI — Lotilaner ophthalmic solution 0.25% in the treatment of Demodex blepharitis: A case report (2025–2026)

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis profesional. Setiap keluhan pada mata sebaiknya dikonsultasikan langsung dengan dokter mata atau tenaga kesehatan yang berwenang, karena diagnosis dan penanganan yang tepat memerlukan pemeriksaan langsung. Informasi mengenai ketersediaan obat tertentu (seperti lotilaner/Xdemvy) merujuk pada status persetujuan di Amerika Serikat dan belum dikonfirmasi ketersediaannya di Indonesia.