Chorea adalah gerakan tubuh yang tiba-tiba, singkat, dan tidak bisa dikendalikan, muncul secara acak berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lain, seperti di tangan, wajah, bahu, atau kaki. Gerakan ini bukan akibat kejang, bukan disengaja, dan bukan tanda orang “kesurupan”.
Chorea adalah gejala dari gangguan sistem saraf, dan penyebabnya sangat beragam, mulai dari infeksi streptokokus pada anak hingga penyakit genetik pada orang dewasa. Kabar baiknya, banyak kasus chorea bisa diobati dan membaik sepenuhnya jika ditangani tepat.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh Saya atau Anak Saya?
Chorea terjadi ketika bagian otak yang mengatur koordinasi gerakan mengalami gangguan sehingga otot-otot bergerak di luar kehendak. Kata “chorea” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tarian”, karena gerakannya memang terlihat seperti gerakan menari yang tak beraturan.
Gerakan ini biasanya muncul saat seseorang terjaga dan akan berkurang atau hilang saat tidur. Gerakannya tidak bisa ditahan, tidak menyakitkan, tetapi bisa mengganggu aktivitas seperti menulis, makan, berjalan, atau berbicara.
Ada beberapa penyebab tersering yang perlu diketahui berdasarkan usia:
Pada anak-anak, penyebab paling umum adalah Sydenham chorea, komplikasi dari infeksi tenggorokan bakteri Streptococcus yang tidak tuntas diobati (demam rematik). Kondisi ini bisa muncul beberapa minggu hingga bulan setelah infeksi, sering disertai perubahan perilaku seperti mudah menangis atau gelisah berlebihan.
Pada ibu hamil, chorea bisa muncul di trimester pertama, dikenal sebagai chorea gravidarum, dan biasanya membaik sendiri setelah melahirkan.
Pada orang dewasa paruh baya ke atas, penyebab yang perlu diwaspadai adalah penyakit Huntington, penyakit genetik yang diturunkan dari orang tua. Selain gerakan tak terkendali, penyakit ini juga memengaruhi kemampuan berpikir dan suasana hati.
Penyebab lain termasuk penyakit autoimun (seperti lupus), efek samping obat tertentu (termasuk beberapa obat antipsikotik dan pil KB), gangguan tiroid, atau masalah elektrolit dalam darah.
Chorea berbeda dari tremor (gerakan bergetar yang berirama dan konsisten) dan dari tic (gerakan berulang di tempat yang sama). Jika Anda ragu apakah yang terjadi adalah chorea, tremor, atau tic, dokter umum bisa membantu membedakannya.
Tanda Bahaya yang Mengharuskan Segera ke IGD
Chorea sendiri jarang menjadi kedaruratan langsung, tetapi ada kondisi di mana penyebab di balik chorea bisa mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan segera.
Pergi ke IGD atau hubungi layanan gawat darurat segera jika chorea muncul bersamaan dengan:
- Kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, atau wajah mencong ke satu arah
- Bicara tiba-tiba pelo, cadel, atau tidak bisa bicara sama sekali
- Penglihatan mendadak kabur atau ganda
- Penurunan kesadaran, sulit dibangunkan, atau kebingungan berat mendadak
- Demam tinggi disertai leher kaku dan kepala sangat nyeri (tanda meningitis)
- Gerakan sangat hebat hingga anak atau pasien tidak bisa berdiri, jatuh berulang, atau cedera
Tanda-tanda di atas bisa mengindikasikan stroke, ensefalitis (radang otak), atau komplikasi serius lain yang memerlukan pemeriksaan darurat segera, bukan menunggu jadwal poli.
Kapan Harus Segera Membuat Janji dengan Dokter?
Jika tidak ada tanda bahaya di atas, Anda tetap harus segera membuat janji dengan dokter dalam beberapa hari ke depan jika:
- Anak atau anggota keluarga muncul gerakan tak terkendali yang baru pertama kali terjadi, meski ringan
- Gerakan sudah berlangsung lebih dari beberapa hari dan tidak membaik
- Ada riwayat sakit tenggorokan atau demam rematik beberapa minggu lalu, lalu kini muncul gerakan aneh
- Ada anggota keluarga kandung yang pernah didiagnosis penyakit Huntington, dan mulai muncul gerakan atau perubahan perilaku
- Chorea muncul bersamaan dengan perubahan perilaku seperti mudah marah, menangis tanpa sebab, atau penurunan prestasi sekolah pada anak
- Ada obat baru yang baru dimulai sebelum gejala muncul
Jangan menunggu gejala memburuk. Chorea yang ditangani lebih awal, terutama pada Sydenham chorea, memiliki hasil yang jauh lebih baik.
Apa yang Harus Dilakukan Sekarang di Rumah
Tidak ada tindakan mandiri yang bisa menghentikan chorea, dan tidak dianjurkan mencoba menghentikan atau menahan gerakan tersebut secara paksa karena bisa menyebabkan cedera.
Yang bisa dan sebaiknya dilakukan sambil menunggu jadwal dokter:
Catat dengan teliti kapan gerakan pertama kali muncul, bagian tubuh mana yang terdampak, apakah ada demam atau sakit tenggorokan sebelumnya, dan obat-obatan apa yang sedang dikonsumsi. Informasi ini akan sangat membantu dokter menegakkan penyebab lebih cepat.
Jaga lingkungan agar aman dari risiko cedera, misalnya jauhkan benda tajam dari jangkauan, pasang alas lembut di sekitar tempat duduk atau tidur jika gerakan cukup kuat, dan dampingi saat beraktivitas seperti makan atau mandi.
Jangan berikan obat penenang, obat tidur, atau obat lain yang tidak diresepkan dokter dengan tujuan “menghentikan” gerakan. Beberapa obat justru bisa memperburuk kondisi tergantung penyebab yang mendasarinya.
Bagaimana Dokter Akan Memastikan dan Mengobati Kondisi Ini
Dokter akan mendiagnosis chorea melalui pemeriksaan fisik dan neurologis, bukan hanya dari gejala saja. Tidak ada satu tes tunggal untuk chorea karena ia adalah gejala, bukan penyakit itu sendiri, sehingga dokter perlu mencari penyebabnya.
Pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi tes darah (untuk memeriksa infeksi streptokokus, fungsi tiroid, kelainan elektrolit, penanda autoimun), EKG atau ekokardiografi jika dicurigai demam rematik, serta MRI otak jika diperlukan untuk menyingkirkan penyebab struktural. Pada kasus dengan riwayat keluarga Huntington, tersedia tes genetik khusus.
Pengobatan chorea sepenuhnya bergantung pada penyebabnya:
Jika penyebabnya adalah Sydenham chorea akibat infeksi streptokokus, dokter akan memberikan antibiotik untuk menuntaskan infeksi dan pencegahan kekambuhan jangka panjang. Untuk gejala gerakannya, bisa diberikan obat seperti asam valproat atau kortikosteroid. Sebagian besar anak pulih sepenuhnya dalam beberapa bulan.
Jika penyebabnya adalah efek samping obat, dokter akan menyesuaikan atau mengganti obat yang memicu chorea, dan gejala biasanya membaik setelah obat dihentikan.
Jika penyebabnya adalah penyakit Huntington, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan atau menghentikan perjalanan penyakitnya, tetapi obat seperti tetrabenazine atau deutetrabenazine terbukti dapat mengurangi beratnya gerakan. Perawatan bersifat jangka panjang dan melibatkan tim multidisiplin termasuk fisioterapis, ahli gizi, dan psikolog.
Jika penyebabnya adalah autoimun atau lupus, pengobatan diarahkan pada penyakit dasarnya, dan chorea biasanya membaik bersamaan.
Prognosis atau perkiraan hasil tergantung besar pada penyebab. Chorea yang disebabkan infeksi atau obat umumnya bisa pulih total. Chorea yang merupakan bagian dari penyakit degeneratif seperti Huntington memerlukan manajemen jangka panjang, tetapi kualitas hidup tetap bisa dipertahankan dengan perawatan yang tepat.
Mitos atau Fakta: “Chorea pada Anak Berarti Penyakit Saraf Seumur Hidup”?
Ini mitos. Banyak orang tua panik saat anak didiagnosis chorea karena mengira ini penyakit saraf permanen yang tidak bisa sembuh. Faktanya, Sydenham chorea yang merupakan penyebab paling sering pada anak, justru memiliki prognosis sangat baik. Sebagian besar anak pulih sepenuhnya dalam 3 hingga 6 bulan dengan pengobatan yang tepat, dan tidak meninggalkan kerusakan saraf permanen.
Yang penting diperhatikan adalah pencegahan kekambuhan: anak yang pernah mengalami Sydenham chorea perlu mendapat antibiotik pencegahan jangka panjang (biasanya suntikan penisilin setiap bulan) untuk mencegah infeksi streptokokus berulang yang bisa merusak katup jantung. Ini bukan karena sarafnya rusak, melainkan untuk melindungi jantung dari komplikasi demam rematik.
FAQ
Apakah chorea bisa berhenti sendiri tanpa obat?
Bergantung pada penyebabnya. Sydenham chorea kadang bisa membaik sendiri dalam beberapa bulan, tetapi pengobatan tetap dianjurkan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah kekambuhan. Chorea gravidarum pada ibu hamil biasanya hilang setelah melahirkan. Sebaliknya, chorea akibat penyakit Huntington tidak akan berhenti sendiri dan bersifat progresif. Jangan menunggu tanpa konsultasi dokter, terutama jika ini pertama kali terjadi.
Dokter spesialis apa yang menangani chorea?
Dokter spesialis saraf (neurologi) adalah yang paling tepat untuk mendiagnosis dan menangani chorea. Pada anak, bisa dirujuk ke dokter spesialis saraf anak (neuropediatri). Jika dicurigai ada penyebab autoimun seperti lupus, dokter reumatologi juga akan dilibatkan.
Apakah chorea menular?
Tidak. Chorea sendiri bukan penyakit menular. Namun penyebabnya, yaitu infeksi streptokokus yang bisa memicu Sydenham chorea, bisa menular antar anggota keluarga melalui percikan ludah. Jadi jika ada anak dengan Sydenham chorea, anggota keluarga yang juga sakit tenggorokan sebaiknya diperiksa dan diobati tuntas.
Bisakah chorea kambuh setelah sembuh?
Sydenham chorea bisa kambuh jika infeksi streptokokus terjadi lagi. Itulah mengapa pemberian antibiotik pencegahan jangka panjang sangat penting pada anak yang pernah mengalaminya. Kekambuhan biasanya lebih ringan dari episode pertama, tetapi tetap perlu ditangani.
Apakah anak dengan chorea bisa kembali sekolah dan beraktivitas normal?
Ya, sebagian besar bisa. Selama gerakan masih berlangsung, aktivitas yang berisiko cedera (seperti olahraga kontak atau naik tangga tanpa pendampingan) perlu dibatasi sementara. Sekolah bisa tetap dilanjutkan dengan penyesuaian, misalnya tugas lisan sebagai pengganti tulisan tangan jika tangan terdampak. Guru sebaiknya diberi tahu kondisi anak agar bisa mendukung tanpa membuat anak merasa berbeda.
Jika ada anggota keluarga dengan Huntington, apakah saya otomatis terkena juga?
Tidak otomatis. Penyakit Huntington diwarisi secara autosomal dominan, artinya setiap anak dari orangtua dengan Huntington memiliki peluang 50% untuk mewarisi gen tersebut. Tersedia tes genetik prediktif yang bisa dilakukan oleh orang dewasa yang ingin mengetahui status genetiknya, idealnya dengan pendampingan konseling genetik sebelum dan sesudah tes karena hasilnya membawa konsekuensi emosional yang signifikan.
REFERENSI
- European Federation of Neurological Societies (EFNS)/European Academy of Neurology. Guidelines on the diagnosis and management of Huntington’s disease. European Journal of Neurology, 2012 (diperbarui praktik klinik secara berkala oleh European Huntington’s Disease Network).
- World Heart Federation & RHD Action. Rheumatic Heart Disease and Sydenham’s Chorea: Diagnosis and Management Guidelines, 2023.
- Carapetis JR, et al. “Sydenham’s chorea.” Nature Reviews Disease Primers, 2016. Digunakan sebagai referensi klinis utama untuk karakteristik, diagnosis, dan tata laksana Sydenham chorea.
- Walker FO. “Huntington’s Disease.” The Lancet, 2007;369(9557):218-228. Referensi klinis utama untuk mekanisme, gambaran klinis, dan pendekatan tata laksana penyakit Huntington.
- Bhidayasiri R, Truong DD. “Chorea and related disorders.” Postgraduate Medical Journal, 2004. Digunakan sebagai acuan klasifikasi dan penyebab chorea secara klinis.
- Huntington’s Disease Society of America (HDSA). Medical Management of Huntington’s Disease, edisi terbaru. Tersedia di: hdsa.org. Digunakan sebagai referensi pendekatan multidisiplin dan pilihan terapi simtomatik termasuk tetrabenazine dan deutetrabenazine.
- American Heart Association / American College of Cardiology. Jones Criteria for Acute Rheumatic Fever (revisi 2015). Circulation, 2015;131(19):1806-1818. Digunakan sebagai acuan kriteria diagnosis demam rematik dan rekomendasi profilaksis antibiotik jangka panjang.





