Tren kecantikan instan terus bermunculan di media sosial, mulai dari ramuan rumahan hingga klaim “glowing dalam semalam”. Sejumlah dokter kulit yang pernyataannya dikutip beberapa media dalam beberapa bulan terakhir menegaskan, kulit bercahaya adalah hasil proses biologis yang butuh waktu, bukan trik cepat.
Regenerasi Kulit Butuh Waktu
Saat Grand Launching Eva Mulia Clinic Priority di Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026), dokter Lie Man dari Eva Mulia Clinic menjelaskan bahwa kulit manusia memiliki siklus regenerasi alami yang membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk memunculkan sel kulit baru, seperti dilaporkan Kompas.com. Karena itu, hasil perawatan tidak bisa terlihat instan hanya dalam hitungan hari.
Dokter Eddy dari klinik yang sama menambahkan bahwa kulit glowing tidak cukup hanya dari perawatan permukaan, tetapi juga perlu didukung faktor internal seperti pola makan, tidur, dan manajemen stres.
Bahan Aktif yang Direkomendasikan
Bukan hal baru sebenarnya. Dokter kulit Christopher Tomassian, pendiri klinik kecantikan The Dermatology Collective di California, pernah membagikan sejumlah bahan aktif untuk membuat wajah glowing dalam wawancara dengan The Sun.
Menurutnya, langkah pertama untuk memperbaiki tekstur kulit adalah mengaplikasikan serum vitamin C setiap pagi, karena studi yang diterbitkan di jurnal Dermatologic Surgery menunjukkan kandungan ini membuat kulit lebih halus, mendorong produksi kolagen, dan menyamarkan bintik hitam.
Untuk malam hari, ia menyarankan niacinamide sebelum tidur, yaitu vitamin B3 yang membantu mencerahkan kulit dan mengurangi garis halus, serta retinol sekitar tiga kali seminggu bagi yang sudah terbiasa. Pemula disarankan memulai secara bertahap, dan hasil pada tekstur kulit baru terlihat nyata setelah berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Kesalahan yang Justru Merusak Kulit
Dokter kulit Mona Gohara menekankan bahwa menjaga skin barrier atau lapisan pelindung kulit adalah hal terpenting dalam perawatan wajah, sebab eksfoliasi berlebihan atau tidak membersihkan makeup dapat merusak lapisan itu dan memicu peradangan, ujarnya kepada majalah Prevention, Senin (13/4/2026).
Senada, dokter kulit Marisa Garshick menyebut penggunaan scrub atau eksfoliator kimia secara berlebihan bisa menyebabkan kemerahan, iritasi, hingga kulit menjadi lebih sensitif. Idealnya, eksfoliasi cukup dilakukan dua sampai tiga kali seminggu. Mencampur retinol, AHA, atau vitamin C dalam satu waktu juga disebut berisiko memicu iritasi.
Faktor Gaya Hidup Ikut Berperan
Olahraga pun disebut punya efek langsung ke kulit. Dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta Barat, Sabtu (10/1/2026), seorang dokter menjelaskan bahwa saat berolahraga jantung memompa lebih kencang sehingga aliran darah meningkat dan membawa lebih banyak oksigen serta nutrisi ke seluruh tubuh, termasuk kulit. Efek ini disebut berlaku sama untuk berbagai jenis olahraga, baik rekreasional seperti padel dan bulu tangkis, kardio, maupun latihan kekuatan.
Pastikan Produk Terdaftar BPOM
Di luar rutinitas dan gaya hidup, keamanan produk yang dipakai tak kalah penting. Produk skincare yang belum terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berisiko mengandung bahan berbahaya seperti merkuri atau hidrokuinon dosis tinggi, yang dalam jangka panjang justru merusak kulit. Nomor registrasi produk bisa dicek langsung melalui situs atau aplikasi resmi BPOM sebelum membeli.
Sejauh ini belum ada pernyataan resmi baru dari BPOM atau Kemenkes yang secara khusus menanggapi klaim “glowing instan” yang beredar di media sosial. Masyarakat disarankan tetap kritis terhadap konten viral dan berkonsultasi ke dokter kulit untuk masalah yang persisten, alih-alih mengikuti tren yang belum teruji secara klinis.





