Adam Hawa (Rhoeo discolor)

Redaksi DokteriaSelasa, 30 Juni 2026 | 10:00 WIB
Manfaat Tanaman Adam Hawa untuk Batuk, Diare, dan Radang, Ini Faktanya
Manfaat Tanaman Adam Hawa untuk Batuk, Diare, dan Radang, Ini Faktanya

Tanaman Adam Hawa, atau dikenal secara ilmiah sebagai Rhoeo discolor, dipercaya secara tradisional bisa membantu meredakan batuk, radang tenggorokan, dan diare karena kandungan tanin serta antosianin di daunnya — tapi getahnya berisiko mengiritasi kulit dan mulut jika diolah sembarangan. Itu sebabnya tanaman yang selama ini cuma dianggap penghias halaman ini sebenarnya butuh sedikit kehati-hatian sebelum dijadikan obat rumahan.

Kalau Anda punya tanaman ini di pekarangan — daunnya berbentuk seperti pedang, hijau di atas dan ungu mencolok di bawah — kemungkinan besar Anda menanamnya bukan karena tahu khasiatnya, melainkan karena warnanya yang unik. Itu wajar. Banyak warga di Lamongan dan sekitarnya pun baru tahu fungsi obatnya setelah ada sosialisasi dari mahasiswa KKN yang turun ke desa-desa untuk memperkenalkan ulang tanaman ini sebagai obat rumahan, bukan sekadar tanaman hias.

Apa Itu Tanaman Adam Hawa dan Dari Mana Asalnya

Nama “Adam Hawa” sendiri sebenarnya cuma sebutan lokal di Indonesia. Di literatur ilmiah dan di negara asalnya, Meksiko, tanaman ini dikenal sebagai Rhoeo discolor atau Tradescantia spathacea, kadang juga disebut nanas kerang karena bentuk roset daunnya yang mirip mahkota nanas.

Ciri yang paling mudah dikenali adalah perbedaan warna di kedua sisi daunnya. Permukaan atas hijau tua mengilap, sementara bagian bawahnya ungu pekat — warna yang berasal dari antosianin, pigmen yang juga ditemukan pada buah beri dan terong, dan dikenal punya sifat antioksidan kuat. Justru kontras warna inilah yang membuat tanaman ini lama dipandang sebagai dekorasi murni, padahal di balik warna ungunya tersimpan kandungan kimia yang dipakai dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Meksiko sejak lama, jauh sebelum tanaman ini populer sebagai tanaman hias di Indonesia.

Di dunia farmakognosi — ilmu yang mempelajari bahan obat dari tumbuhan — daun Adam Hawa mengandung tanin, saponin, flavonoid, dan asam format, di samping antosianin yang sudah disebut tadi. Kombinasi inilah yang mendasari klaim khasiatnya, bukan satu zat tunggal seperti yang sering disalahpahami orang.

Mengapa Daun Adam Hawa Dipercaya Bisa Mengobati Batuk dan Radang Tenggorokan

Penggunaan paling umum dari tanaman ini di masyarakat adalah sebagai obat batuk dan pereda radang saluran pernapasan, biasanya direbus jadi teh herbal atau dikenal dengan istilah liang teh.

Mekanismenya berkaitan dengan dua hal. Pertama, sifat ekspektoran pada daunnya membantu mengencerkan dahak yang menumpuk di saluran napas, sehingga lebih mudah dikeluarkan saat batuk. Kedua, kandungan tanin dan flavoniodnya punya efek anti-inflamasi yang membantu meredakan iritasi pada tenggorokan yang meradang. Penelitian dari tim Universitas Gadjah Mada sudah memberikan dasar awal secara laboratorium untuk klaim anti-inflamasi ini, meski pengujiannya masih sebatas in vitro — artinya diuji di luar tubuh manusia, belum lewat uji klinis pada pasien sungguhan.

Ini penting dipahami: bukti yang ada saat ini menunjukkan potensi, bukan kepastian bahwa daun ini bisa menggantikan obat batuk yang sudah teruji klinis. Kalau batuk Anda disertai demam tinggi atau berlangsung lebih dari dua minggu, tetap perlu periksa ke dokter — bukan terus-terusan mengandalkan rebusan daun.

Selain untuk batuk, secara tradisional daun ini juga dipakai untuk mimisan, terkilir, dan memar dengan cara ditempelkan langsung ke area yang sakit. Penggunaan topikal seperti ini berbeda risikonya dibanding diminum, dan akan dibahas lebih jauh di bagian getah.

Bagaimana Tanin di Adam Hawa Membantu Mengatasi Diare

Satu manfaat yang sering terlewat dari daftar khasiat Adam Hawa adalah efeknya untuk diare. Ini bukan kebetulan — secara kimiawi memang masuk akal.

Tanin punya sifat astringen, yang artinya bisa “mengerutkan” jaringan dan mengurangi sekresi cairan di usus. Efek inilah yang sejak lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk diare, mirip dengan cara kerja daun jambu biji yang lebih populer. Bedanya, daun jambu biji sudah lebih banyak diteliti secara klinis, sementara Adam Hawa masih bertumpu pada catatan etnobotani dan studi laboratorium skala kecil.

Yang perlu diwaspadai justru kebalikannya: konsumsi tanin berlebihan, terutama dari rebusan yang terlalu pekat atau diminum terlalu sering, bisa malah mengganggu penyerapan zat besi dan menyebabkan sembelit. Jadi prinsip “kalau sedikit bagus, kalau banyak makin bagus” tidak berlaku di sini — justru sebaliknya.

Getah Adam Hawa: Bagian yang Sering Diabaikan tapi Paling Penting Diketahui

Inilah bagian yang jarang dibahas tuntas oleh artikel-artikel sejenis, padahal justru paling krusial untuk keselamatan.

Getah pada daun dan batang Adam Hawa mengandung kalsium oksalat dalam bentuk kristal mikroskopis yang disebut raphide — bentuknya seperti jarum-jarum sangat kecil. Saat getah ini mengenai kulit, kristal tersebut bisa menusuk jaringan permukaan kulit dan memicu reaksi gatal, kemerahan, bahkan rasa seperti terbakar. Beberapa orang yang pernah mencoba mengunyah daun mentah secara langsung melaporkan sensasi gatal di sekitar mulut dan wajah dalam beberapa menit setelahnya — efek yang sama persis dengan yang terjadi pada tanaman lain berkristal oksalat tinggi seperti talas atau keladi.

Banyak yang baru menyadari risiko ini setelah mengalami sendiri rasa gatal tersebut, bukan dari membaca peringatan di awal. Itu sebabnya cara pengolahan jadi penentu apakah daun ini aman dikonsumsi atau justru bikin masalah baru.

Berikut yang membedakan pengolahan aman dan berisiko:

Aspek Cara Aman Cara Berisiko
Bagian yang dipakai Daun yang sudah direbus matang Daun mentah dikunyah/ditumbuk langsung
Kontak dengan getah Diminimalkan lewat perebusan Getah langsung mengenai kulit/mulut
Jumlah Secukupnya, tidak berlebihan Berlebihan demi “efek lebih cepat”
Penggunaan topikal Daun ditumbuk dengan alas, hindari getah ke kulit sensitif Ditempel langsung tanpa uji reaksi kulit

Perebusan dengan suhu tinggi pada dasarnya membantu menguraikan sebagian kandungan getah yang mengiritasi, itulah kenapa rebusan jauh lebih aman dibanding mengonsumsi daun mentah. Ini juga menjelaskan mengapa hampir semua resep tradisional yang diturunkan secara lisan selalu menekankan proses rebus, bukan makan langsung — bukan sekadar soal rasa, tapi soal keamanan.

Kalau Anda punya kulit sensitif atau riwayat alergi terhadap tanaman dari keluarga Commelinaceae, sebaiknya uji dulu di area kulit kecil sebelum menempelkan daun langsung ke kulit untuk mengobati memar atau terkilir.

Cara Membuat Teh Herbal dari Daun Adam Hawa

Setelah memahami soal getah, proses pembuatan teh herbalnya sendiri sebenarnya sederhana.

Daun segar dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran dan sisa getah di permukaan, lalu direbus dengan air dalam jumlah secukupnya — bukan dipekatkan berlebihan mengingat sifat astringen tanin yang sudah dibahas tadi. Air rebusan yang sudah berubah warna keunguan inilah yang biasa diminum sebagai liang teh, minuman yang secara tradisional dipercaya meredakan panas dalam selain fungsinya untuk batuk.

Satu hal yang jarang disebutkan: jangan merebus daun yang sudah menguning atau membusuk sebagian, karena daun dalam kondisi ini berpotensi mengandung kontaminan mikroba selain mungkin sudah kehilangan sebagian kandungan aktifnya. Pilih daun yang masih segar dan sehat, idealnya bukan dari tanaman yang baru disemprot pestisida kalau ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan.

Klaim Lain yang Beredar dan Mengapa Perlu Disikapi Hati-Hati

Belakangan ini banyak konten yang mengklaim Adam Hawa punya puluhan manfaat sekaligus — mulai dari antiobesitas, antikanker, sampai pelindung kardiovaskular. Klaim semacam ini perlu dibaca dengan kacamata yang tepat.

Sebagian besar klaim itu berasal dari ekstraksi kandungan kimia seperti flavonoid dan antosianin yang memang punya sifat antioksidan secara umum — bukan dari pengujian khusus pada tanaman Adam Hawa terhadap penyakit-penyakit tersebut. Bedanya signifikan: antioksidan memang berperan dalam menetralkan radikal bebas secara umum, tapi itu tidak otomatis berarti tanaman ini terbukti mengobati kanker atau obesitas pada manusia. Riset terkait potensi antiobesitasnya pun masih disebut sendiri oleh penelitinya sebagai sesuatu yang memerlukan studi lebih mendalam.

Yang sudah relatif lebih solid dukungannya justru manfaat yang lebih “biasa”: efek antimikroba terhadap beberapa bakteri dan jamur yang sudah diuji di laboratorium menggunakan metode flow cytometry oleh tim peneliti di Meksiko, tempat tanaman ini juga lazim dipakai dalam pengobatan tradisional. Studi semacam ini memberi gambaran lebih jelas dibanding klaim umum soal “27 manfaat” yang sering beredar tanpa rujukan yang jelas sumbernya.

Siapa yang Sebaiknya Tidak Mengonsumsi Adam Hawa sebagai Obat

Ada beberapa kelompok yang sebaiknya ekstra hati-hati atau menghindari konsumsi internal daun ini sama sekali.

Ibu hamil dan menyusui sebaiknya tidak mengonsumsi rebusan daun Adam Hawa tanpa konsultasi dokter, karena belum ada data keamanan yang cukup untuk kelompok ini — bukan berarti pasti berbahaya, tapi karena memang belum diteliti khusus. Orang dengan riwayat batu ginjal juga perlu waspada, justru karena daun ini sendiri mengandung kalsium oksalat — ironisnya, beberapa penelitian lain menyebut ekstrak daun ini punya potensi membantu meluruhkan kalsium batu ginjal, tapi efek pada orang yang sedang aktif mengalami batu ginjal belum cukup jelas untuk dijadikan rekomendasi pasti.

Anak kecil juga sebaiknya tidak diberi rebusan daun ini dalam dosis sembarangan, mengingat belum ada standar dosis aman yang ditetapkan secara resmi untuk kelompok usia ini.

Tanaman Hias yang Layak Dilihat Ulang

Yang membuat Adam Hawa menarik bukan cuma karena warnanya, tapi karena ia mewakili banyak tanaman pekarangan lain di Indonesia yang sebenarnya punya nilai pengobatan, hanya saja jarang diketahui karena dianggap “cuma hiasan”. Pendekatan yang paling masuk akal adalah memperlakukannya sebagai pelengkap pengobatan tradisional ringan — bukan pengganti obat medis untuk kondisi yang serius — dan selalu memperhatikan cara pengolahan yang aman, terutama soal getahnya.

FAQ

Apakah daun Adam Hawa boleh dimakan mentah?

Sebaiknya tidak. Getah pada daun mentah mengandung kristal kalsium oksalat yang bisa memicu gatal dan iritasi di mulut serta kulit. Direbus terlebih dulu jauh lebih aman dibanding dikonsumsi dalam kondisi mentah.

Berapa lama efek rebusan daun Adam Hawa terasa untuk batuk?

Tidak ada angka pasti yang bisa dijamin, karena responnya berbeda pada setiap orang dan belum ada uji klinis terstandar pada manusia. Kalau dalam beberapa hari batuk tidak membaik atau justru memburuk, sebaiknya periksa ke dokter daripada terus mengandalkan rebusan herbal.

Apakah tanaman Adam Hawa yang ditanam sebagai hias sama dengan yang dipakai untuk obat?

Ya, sama. Rhoeo discolor yang biasa ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias adalah spesies yang sama yang dipakai dalam pengobatan tradisional. Yang membedakan hanyalah cara mengolah dan tujuan penggunaannya.